Monday, October 31, 2011

"Bustier" Madonna Laku 45.000 Poundsterling

Madonna meninggalkan Istana Bandeirantes di Sao Paulo, Brazil, 10 Februari 2010 waktu setempat, setelah menemui Gubernur Sao Paulo, Jose Serra.

LOS ANGELES, KOMPAS.com — Bustier terkenal Madonna, yang dikenakannya di panggung tur Who's That Girl pada 1987, telah terjual dalam lelang dengan harga 45.000 poundsterling (Rp 638 juta).

Bustier yang dipesan khusus untuk Madonna dari Trashy Lingerie, toko pakaian dalam yang berpusat di Los Angeles (California, AS), itu dikenakan di balik busana ketat dari bahan jala tembus pandang. Bustier tersebut dilelang di China. Diperkirakan, bustier itu akan laku 4.000 hingga 5.000 poundsterling (Rp 56 juta-Rp 70 juta).

Dipamerkan lebih dulu di Rock and Roll Hall of Fame, Ohio (AS), dan The Frederick's of Hollywood Museum, Los Angeles (AS), bustier itu dijual di resor Ponte di Macau, China, oleh Jullien's Auctions, balai lelang yang berpusat di Beverly Hills (Los Angeles). Selain bustier tersebut, dilelang pula 23 memorabilia lain Madonna. Sebut saja, copy buku Sex (1992) yang bertanda tangan Madonna, sebuah hasil rekaman lagu "Simon Says" yang disajikan oleh Madonna bersama band Emmy and the Emmy's-nya. Total, hasil lelangnya lebih dari 62.000 poundsterling (Rp 879 juta).

Darren Julien, pemilik Julien's Auctions, mengatakan, "Ketika membeli benda-benda ini, Anda membeli sebuah kenangan."

Kostum itu dipilih untuk tur dunia pertama Madonna, Who's That Girl, oleh pengarah penampilan dan perancang kostumnya, Martha Stewart. "Bagian terpenting adalah busana bagian atas yang memperlihatkan perut, rok atau celana di pinggul, dan tali lingerie yang terlihat di bawah busana bagian atas," terang Stewart ketika itu.

Rumah Nikita Willy Dimasuki Pencuri

BEKASI, KOMPAS.com — Petugas Kepolisian Sektor Pondok Gede, Kota Bekasi, menyelidiki pencurian kediaman pesinetron Nikita Willy di Jatiwaringin, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, Kamis (27/10/2011) siang.

Pencuri mengambil satu komputer jinjing dan tiga jam tangan senilai Rp 40 juta.

Menurut keterangan Kepala Kepolisian Sektor Pondok Gede Komisaris Burhanuddin melalui Kepala Unit Reserse Kriminal Inspektur Satu Agus Hadiwijaya, pembobolan terjadi sebelum pukul 14.00 WIB saat rumah tersebut kosong.

Sekitar pukul 14.00 WIB, dua penata rumah tangga yang bekerja pada keluarga pemeran utama sinetron Putri yang Ditukar itu mendapati pintu utama sudah rusak.

Saat mereka masuk ke dalam rumah, dua kamar sudah berantakan. Kejadian itu pun segera dilaporkan kepada orangtua Nikita Willy. Keluarga selanjutnya melapor ke petugas Kepolisian Sektor Pondok Gede.

Diduga, pencurian dilakukan oleh dua lelaki bersepeda motor.

Adapun kediaman bintang sinetron ini pernah kecurian pada April 2009. Waktu itu tiga televisi LCD dan seperangkat pelantang suara diambil dari dalam mobil yang diparkir di garasi rumah.

Leighton Meester Pilih Sepatu Bukan Karena Perancangnya

LOS ANGELES, KOMPAS.com -- Aktris film seri televisi Gossip Girl, Leighton Meester (25), mengatakan bahwa ia menyukai semua tipe alas kaki dan membeli sepatu karena ia menyukai sepatu itu, bukan karena siapa yang merancang sepatu itu.

"Saya mencari sepatu yang benar-benar 'berbicara' kepada saya, bukan perancangnya yang 'berbicara'," tutur perempuan dari AS ini. "Jika itu sepatu untuk seharu-hari, saya biasanya memilih tipe yang sama, seperti sepatu dengan sol tipis, tanpa hak. Tapi, menurut saya, variasi itu penting," sambungnya.

Meester, yang juga penyanyi, mengatakan pula bahwa ia memilih alas kaki yang praktis. Contohnya, ia tak akan mengenakan sepatu berhak jika membawa anjingnya berjalan-jalan. "Jika membawa anjing saya berjalan-jalan, saya mengenakan sepatu kets karena lebih baik tampilannya dan lebih nyaman dikenakannya," tuturnya lagi.

Baru-baru ini Meester mengungkapkan, ia merupakan penggemar berat alas kaki mewah berlabel Roger Vivier dari Perancis. Ia amat menyukai sepatu tersebut karena berdesain klasik dengan sentuhan moderen.

Dari Dangdut, "Cinta Satu Malam" Jadi Swing

SURABAYA, KOMPAS.com — Tur Urban Jazz Crossover 2011 masih digulirkan. Sesudah Medan (30/9/2011) dan Pekanbaru (8/10/2011) menjadi kota-kota tur tersebut, Jumat (28/10/2011) Surabaya yang dikunjungi. Bandung (4/11/2011) dan Jakarta (18/11/2011) akan menjadi kota-kota berikutnya.  

Di Grand City, Surabaya, kira-kira 2.500 penonton telah menikmati hiburan musik serta tata panggung dan tata cahaya pada Jumat malam lalu. Pertunjukan musik jazz yang diramu dengan musik-musik lain itu dibuka oleh permainan musik akustik dari band Jakarta Journey, dengan lagu "Friday I'm in Love" milik grup rock Inggris, The Cure, dan beberapa lagu band ternama lain di dunia.

"Elevation" (U2), yang disajikan oleh vokalis Syaharani bersama rapper Rongkie, menjadi suguhan pertama konser yang digelar oleh Dji Sam Soe Magnum Filter itu. Vicky Sianipar, yang didapuk menjadi music director sekaligus memimpin Vicky Sianipar Band di atas pentas Urban Jazz Crossover 2011, menunjukkan keandalannya dalam meramu lagu Elevation menjadi musik disko berbumbu permainan alat musik brass dan cabikan bas yang kental sebagai sentuhan jazz-nya. Aslinya, "Elevation" bermusik rock.

Tak cuma musik dan vokal yang dipertontonkan pada Urban Jazz Crossover 2011 di Surabaya. Kreativitas Show Director Urban Jazz Crossover 2011, Nanda, dalam menata cahaya dengan mengandalkan lampu LED dan layar besar pun mampu membuat para penikmat musik itu menikmati suguhan visual tersebut.

Berikutnya, Rongkie menemani penyanyi muda Raisa untuk berdua menyajikan "Sweet Disposition" (The Temper Trap), sebelum Firman tampil solo mendendangkan "Sedang Ingin Bercinta" (Dewa 19). Firman yang memiliki karakter vokal rock mampu menjalankan tugasnya dengan baik ketika Vicky Sianipar Band mengawalnya dengan swing jazz.

Riuh rendah memecah Grand City setelah vokalis David "Naif", yang berpenampilan ala Don Juan, menyanyikan secara medley "Beautiful Girl" (Bruno Mars), "Beautiful" (Prince), dan "Beautiful Ones" (Suede). Ia kemudian melanjutkan medley tersebut dengan "Lady" (Modjo) secara penuh.

Asyik menikmati lagu-lagu yang dinyanyikan oleh David, berikutnya para penonton digiring untuk menikmati kejutan dari pedangdut Ira Swara, yang mendendangkan "Cinta Satu Malam" (Melinda). Kepada Ira, Vicky memberi tantangan. Musik "Cinta Satu Malam" yang dikenal sebagai lagu dangdut dan terasa enteng bagi Ira, diaransemen oleh Vicky menjadi swing. Tantangan itu mampu dituntaskan dengan baik oleh Ira. Para penonton pun terbawa menyanyi.

Begitu pula pada lagu "Don't Cha" (Pussy Cats Doll), yang diaransemen menjadi chacha, dan lagu "La Samba Primadona" (Krakatau), yang diaransemen menjadi tango, Ira bernyanyi tanpa meninggalkan cengkok dangdutnya.

Kejutan-kejutan dari jazz yang dipadu dengan musik-musik lainnya juga asyik dinikmati dalam penampilan vokalis rock Krisyanto bersama Ras Muhammad pada lagu "Bebas" (Iwa K), lalu Firman "Idol" bersama Ras Muhammad pada lagu "3 Little Birds" (Bob Marley).

Urban Jazz Crossover 2011 di Surabaya semakin menggila di ujungnya, dengan aksi David dan Firman, yang diikuti oleh para penyanyi yang lain dalam lagu "(I Can't Get No) Satisfaction" (Rolling Stones).

David Foster Kembali dan Merebut Hati Lagi

KOMPAS IMAGES/ BANAR FIL ARDHIDavid Foster dengan pianonya mengawal sejumlah penyanyi luar negeri dan Indonesia dalam konser Hit Man Returns: David Foster and Friends Tour 2011 di Jakarta Convention Center, Jumat (28/10/2011).

JAKARTA, KOMPAS.com — Pencipta lagu, pemain musik, aranjer, dan produser musik kawasakan dari Kanada, David Foster, tetap mampu merebut hati para penonton di Jakarta pada konser Hit Man Returns: David Foster and Friends Asia Tour 2011, pada Jumat (28/10/2011) malam, yang berjarak satu tahun saja dari konser Foster sebelumnya.     

Sesuai dengan konsep David Foster and Friends-nya, seperti pada konsernya yang digelar di Jakarta pada 27 Oktober 2010, Foster kali ini juga menghadirkan sejumlah vokalis luar Indonesia yang pernah diproduserinya. Kalau tahun lalu, Foster membawa Natalie Cole, Peter "Chicago" Cetera, Rubben Studdard, Canadian Tenors, dan bakat baru dari Filipina, Charice Pempengco, tahun ini ia memboyong Michael Bolton, Philip Bailey, Ashanti, Russel Watson, dan, lagi, Charice.  Mereka menyuguhkan lagu-lagu dengan diiringi oleh Foster (piano) dan bandnya.

Pertunjukan dimulai dengan penampilan Charice, yang bertubuh mungil tapi bersuara dahsyat. Ia melantunkan "Power of Love", yang telah dipopulerkan oleh diva musik Kanada Celine Dion. Pada penampilannya selanjutnya, Charice juga tidak mengecewakan Foster, yang telah melambungkan namanya. Tanpa kesulitan, ia melalap lagu sulit yang dicipta oleh Foster untuk Beyonce, "Stand Up For Love".

Suasana makin hangat ketika vokalis Inggris Russel Watson manggung sesudah Charice. Mantan buruh pabrik di Manchester itu mampu mengimbangi gaya kocak Foster ketika berbicara kepada para penyanyi di pentas atau para penonton. Ada insiden lucu ketika Foster menanyai Watson apakah ia pernah ke Jakarta sebelum ini. Entah memang salah dengar atau sengaja "memelesetkan" kata Jakarta, Watson menjawab bahwa ia pernah beberapa kali ke, "Chicago." Yang jelas, insiden itu membuat para penonton dan Watson terpingkal-pingkal.

Foster mengungkapkan hal yang tidak banyak diketahui orang tentang Watson. Watson merupakan penyanyi pertama "You Raise Me Up" ciptaan Rolf Løvland (komposisi) dan Brendan Graham (lirik). Dilantunkan oleh Watson, lagu dengan lirik spiritual tersebut tidak menjadi terkenal. Setelah dibawakan oleh Josh Groban, baru lagu itu melejit. "Karena bukan Anda yang mengerjakannya," ujar Watson memuji tangan dingin Foster, yang melambungkan nama Groban melalui lagu tersebut.

Watson melengkapi penampilannya dengan mengajak para penonton menjadi penyanyi latarnya untuk lagu "Volare". Terkesan dengan sambutan mereka, Watson berkelakar dengan mengajak mereka menyanyikan lagu opera "Nossum Dorma". Foster kemudian buru-buru melarangnya.

Usai Watson beraksi, Foster memberi kejutan. Dua remaja Indonesia, Zaneta Naomi (13) dan Putri Ayu (14), dihadirkannya. Foster menjelaskan, ia menemukan kedua penyanyi berbakat besar itu melalui ajang pencarian bakat buatannya, Born to Sing Asia. Zaneta dan Putri merupakan pemenang-pemenang lomba tersebut di Indonesia.

Kedua anak baru gede (ABG) itu membuktikan bahwa sang maestro tidak sia-sia memilih mereka. Zaneta tampil memukau dengan lagu "Listen" (Beyonce) dan Putri dengan suara soprannya membawakan nyanyian Andrea Bocelli, "Con Te Partiro (Time to Say Goodbye)".

Mengenalkan Zaneta dan Putri, Foster mengatakan bahwa ia tak pernah berhenti mencari bakat-bakat baru. Tak mengherankan jika secara mendadak ia mengundang  Angel Pieters ke panggung. Penyanyi remaja itu tampil bersamanya dalam sebuah acara musik televisi pada Jumat pagi. Ada sedikit "negosiasi" antara Foster dengan Angel soal lagu yang akan dinyanyikannya secara dadakan itu. Dengan mengagumkan, Angel lalu membawakan lagu yang juga telah dipopulerkan oleh Celine Dion, "Because You Love Me".

Sebelum mengundang Angel, Ashanti beraksi. Sesudah menyuguhkan tiga lagu karyanya sendiri, penyanyi R and B tersebut menyanyikan "lagu wajib" Foster, apalagi kalau bukan dua lagu film Bodyguard, "I Have Nothing" dan "I Will Always Love You", yang menjadi hit lewat vokal Whitney Houston. 

Sebelum memanggil Philip Bailey, Foster memamerkan suaranya, yang disebutnya "tidak bagus". Foster menyanyikan sepotong-sepotong lagu-lagu yang pernah digarapnya dengan artis-artis musik lain seperti Chicago, Peter Cetera, El deBarge, dan All 4 One. Foster seperti menguji apakah para penonton mengenal karya-karyanya itu. Begitu mereka ikut menyanyi, Foster langsung mengganti lagunya dengan lagu lain berikutnya, sampai akhirnya ia mengundang Bailey ke pentas.

Para penonton diajak bergoyang dan menyanyi bareng karena Bailey menggulirkan lagu-lagu Earth, Wind, and Fire, yang menaunginya sebagai vokalis utama. Lagu-lagu itu, "In the Stone", "After The Love Has Gone", "Reasons", "Fantasy", dan "September".

Muncul dari belakang para penonton, Michael Bolton menjadi penampil terakhir. Bolton, yang rambutnya kini didominasi warna kelabu, menunjukkan olah vokalnya dengan prima. Lima lagu dibawakannya. "When A Man Loves A Woman", "To Love Somebody", "Georgia on My Mind", dan "How Am I Supposed to Live Without You" disuguhkannya sendiri. Sebagai penutup penampilannya, Bolton berduet dengan Charice dalam lagu "The Prayer".

Pertunjukan musik yang harga tiketnya dari Rp 900.000 hingga Rp 6 juta itu diakhiri dengan sebuah penghormatan untuk Michael Jackson. Semua penampil naik panggung dan membawakan lagu "Earth Song". Ketika Foster dan semua penampil lain berpamitan untuk turun panggung, mereka yang duduk di kursi-kursi depan berdiri untuk pulang, tapi mereka yang duduk di tribun terus berseru, "We want more," sampai Foster duduk lagi di depan pianonya dan memainkan hit instrumentalnya, "St Elmo's Fire". Mengakhiri lagu tersebut, Foster menyebut bahwa para penonton Indonesia merupakan yang terbaik di dunia. "You are the best crowd in the world," ujarnya sebelum berjalan ke belakang panggung.

Namun, meskipun lampu panggung sudah padam, para penonton belum mau beranjak. Entah siapa yang memulai, seruan, "We want more" kembali menjadi koor. Sekali lagi, Foster memenuhi "paksaan" tersebut dengan hit instrumentalnya yang lain, "Winter Game"

"Stuntman" Film Stallone Tewas Saat Shooting

SOFIA, KOMPAS.com — Polisi Bulgaria melaporkan, seorang stuntman tewas dalam sebuah kecelakaan yang terjadi dalam syuting film dalam film "Expendables 2", The Sofia Echo melaporkan, Jumat (28/10/2011). Kecelakaan itu juga melukai seorang stuntman lainnya.

Film "Expendables 2" ini dibintangi sejumlah bintang laga bernama besar, seperti Sylvester Stallone, Arnold Schwarzenegger, Bruce Willis, Dolph Lungren, Jean-Claude Van Damme, Jason Statham, Jet Li, and Chuck Norris. Juga seorang bintang muda asal Australia Liam Hemsworth yang juga pacar Miley Cyrus.

Kecelakaan terjadi ketika aktor-aktor pengganti itu melakukan adegan yang di dalamnya terdapat ledakan di perahu karet di bendungan Ognyanovo di dekat kota Elin Pelin.

Menurut FOCUS News Agency, mengutip pernyataan Direktorat Kementerian Dalam Negeri Distrik, stuntman yang tewas berkebangsaan China dan berusia 26 tahun. Sementara rekannya, berkebangsaan Amerika Serikat, mengalami luka parah pada kaki dan luka pada perut.

Saat kejadian, bintang-bintang utama film tersebut tidak berada di lokasi. Mereka sedang melakukan pengambilan gambar di wilayah lain negara itu.

Film yang diprakarsai Stallone itu tergolong sangat sukses. Film pertamanya, "Expendables", menduduki puncak box office beberapa bulan silam dengan penghasilan 274 juta dollar AS.

Sunday, October 30, 2011

David Foster Terpikat Tiga Penyanyi Remaja Indonesia

Putri Ayu, soprano muda Indonesia yang menjadi bintang tamu dalam konser "Hit Man: David Foster & Friends Asia Tour 2011" di Jakarta Convention Center, Jumat (28/10/2011).

JAKARTA, KOMPAS.com — Sebagai penemu dan pemandu bakat serta produser musik kawakan, David Foster tak henti-hentinya berburu penyanyi-penyanyi belia berbakat di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Untuk konser Hit Man Returns: David Foster and Friends Asia Tour 2011 di Jakarta, Jumat (28/10/2011) malam, pun ia menghadirkan dua remaja putri Indonesia yang ia persiapkan, yaitu Zaneta Naomi dan Putri Ayu serta seorang yang mendadak diajaknya, Angel Pieters.     

Foster menemukan vokalis-vokalis muda berbakat antara lain melalui kontes Born to Sing yang diadakannya. Zaneta dan Putri merupakan dua pemenang Born to Sing Asia yang di Indonesia digelar oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional. "Saya tidak pernah lelah mencari bakat-bakat baru dari seluruh dunia," ujar Foster dalam konsernya, sebelum mengenalkan Zaneta dan Putri, dua mutiara yang ditemukannya di Indonesia, kepada para penonton.

Zaneta memang memukau saat menyanyikan lagu "Listen". Di balik tubuh kecilnya itu, putri berusia 13 tahun tersebut ternyata memiliki suara luar biasa. "Mungkin saya harus membawamu pulang," Foster berkelakar.

Penampilan Putri, yang sebelum mengikuti Born to Sing Asia telah meraih gelar Runner-up Indonesia Mencari Bakat 2010, tak kalah memesona. Ia membawakan lagu "Con te partiro (Time to Say Goodbye)", yang kali pertama dinyanyikan oleh Andrea Bocelli.

Soprano tersebut tidak mengecewakan Foster dan mampu membuat bangga para penonton Indonesia. Padahal, sebelum naik ke pentas, dara berumur 14 tahun itu mengaku gugup. "Ternyata kegugupanmu tidak beralasan kan. Kamu tampil mengagumkan," puji Foster. Ketika Putri turun dari panggung, Foster bilang, "Mungkin saya harus mendisiplinkan anak-anak saya karena tidak bisa seperti itu."

Satu lagi, Angelica Martha Pieters (14). Sebelum beranjak remaja dan memakai nama Angel Pieters, ia lebih dulu dikenal dengan nama Angel "Idola Cilik". Ia memang peraih gelar Runner-up Idola Cilik 2008, kontes nyanyi untuk anak yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi swasta nasional. Sebelumnya, mantan murid Elfa Music School ini meraih, antara lain, medali emas dalam World Choir Games di Xianmen, China (2006), dan penghargaan dalam Asian Choir Games di Jakarta (2007). Foster dipertemukan dalam acara musik televisi Dahsyat pada Jumat (28/10/2011) pagi. Dalam konser Foster, Angel melantunkan "Because You Love Me", yang telah dipopulerkan oleh Celine Dion.

Wow! "The Mirror Never Lies" Diputar di Atas Laut!

Film The Mirror Never Lies, yang disutradarai oleh Kamila Andini, diputar pada layar tancap yang dibangun di atas perairan Mola, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Kamis (27/10/2011) malam, dalam rangka Indonesia International Environmental Film Festival, yang digelar di Kabupaten Wakatobi, 26-30 Oktober 2011.

WAKATOBI, KOMPAS.com -- Menonton film dalam gedung bioskop, itu biasa. Menikmati film lewat home theatre, tak istimewa. Tapi, seperti apa rasanya menonton film di atas laut? Pasti ada sensasi berbeda yang dirasakan.

Ya, itulah yang terjadi pada Floating Cinema, salah satu kegiatan dalam Indonesia International Environmental Film Festival (IIEFF), yang digelar di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 26-30 oktober 2011. The Mirror Never Lies, film yang disutradarai oleh Kamila Andini, dipertontonkan pada layar tancap yang dibangun di atas perairan Mola, Wakatobi, Kamis (27/10/2011) malam, di bawah langit berbintang.

Film itu diputar oleh penyelenggara IIEFF secara gratis untuk publik di sana, termasuk orang-orang Bajo. Mereka menonton film tersebut dari atas sampan-sampan, yang bergoyang dibuai angin dan riak air laut. "Ya bagus ya, menarik gitu," ujar Man, salah seorang warga setempat yang hadir.

Film yang dibintangi oleh Atiqah Hasiholan dan Reza Rahardian itu agaknya mengena bagi para warga setempat karena bercerita mengenai kehidupan suku Bajo di sana. "Keren ya idenya. Masyarakat juga menyambut baik. Buktinya, di beberapa adegan, (reaksi) kita biasa aja, mereka malah tertawa," ujar aktor Nicholas Saputra, yang ikut menikmati film berdurasi 120 menit tersebut.

David Foster: Selamat Menikmati Musik Kami

KOMPAS.com — Sang pencetak hit dan bintang itu tiba kembali ke Indonesia. Ya, David Foster kembali menghibur penggemar musik Indonesia lewat konser The Hitman Returns David Foster and Friends Asia Tour 2011. Konser ini digelar di JCC pada Jumat (28/10/2011) malam.

"Saya berharap penonton Indonesia menyukai, mengenal, dan menikmati musik yang kami sajikan dan mengapresiasinya," kata Foster dalam konferensi pers di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Jumat (28/10/2011).

"Kalau penonton tidak menikmatinya berarti konser itu gagal," lanjutnya. Menurut Foster, sangat tidak mengenakkan dan menyedihkan kalau penonton tidak bisa menikmati konsernya.

Kali ini Foster ditemani empat penyanyi, yakni Michael Bolton, Philip Bailey (vokalis Earth, Wind, and Fire) serta Ashanti dan Charice, seorang penyanyi remaja asal Filipina.

Jane Shalimar Ikut Asuransi untuk Berobat di Luar Negeri

JAKARTA, KOMPAS.com -- Artis peran Jane Shalimar mengaku sempat tak percaya terhadap asuransi, sebelum beberapa orang terdekatnya menganjurkannya untuk ikut asuransi dan ia sendiri merasakan manfaatnya.

Sampai tiga tahun yang lalu, kekasih pemain film Iko Uwais ini masih merasa nyaman mengeluarkan uang tunai untuk melakukan pembayaran biaya pengobatan. "Ya, aku sempat skeptis sama asuransi. Aku mikir, takut uangku justru hilang. Karena itu, aku lebih suka pakai uang cash kalau ada apa-apa," kata Jane saat dihubungi Kompas.com di Jakarta, Kamis (27/10/2011).

Tapi, atas saran beberapa orang terdekatnya, Jane akhirnya ikut mengasuransikan kesehatannya sejak tiga tahun lalu. "Orang-orang di sekelilingku ngingetin kalau asuransi kesehatan itu penting," katanya.

Benar saja, Jane merasakan sendiri manfaat asuransi tersebut ketika ia sakit dan butuh pengobatan segera. "Untungnya aku sudah ikut asuransi, karena pas aku sakit, aku lagi enggak prepare (uang tunai). Pokoknya, waktu itu lagi urgent banget kondisinya," ceritanya.

Sejak kejadian itu, Jane memupus pandangan negatifnya terhadap asuransi. Kini, tiga kartu asuransi justru ikut mengisi dompetnya. "Sekarang aku malah ikut tiga asuransi yang berbeda dan salah satunya ada yang internasional. Kan kalau berobat ke Singapura, bisa dipakai asuransinya," alasannya.

Jane juga mengasuransikan pendidikan anaknya. "Anakku juga aku asuransikan pendidikannya. Kalau sekarang kan saya masih mampu kerja, tapi biaya pendidikan itu semakin tinggi," jelas janda cerai yang punya satu anak ini.

Dengan manfaat yang didapatnya, Jane merasa biaya yang dikeluarkan untuk premi asuransi tak seberapa dibanding dengan harus membayar langsung uang muka jika masuk rumah sakit. "Enggak seberapa kok. Rp 10 juta untuk satu tahun itu lebih ringan daripada harus deposit Rp 10 juta untuk biaya rumah sakit," ujarnya.

7 Icons Incar Agnes Monica

JAKARTA, KOMPAS.com -- Para personel girl band 7 Icons ternyata memiliki  keinginan untuk bernyanyi bersama vokalis Agnes Monica di panggung. Mereka mengaku mengagumi penyanyi tersebut.

"Kami pengin banget berkolaborasi dengan Agnes Monica. Kami nge-fan banget sama dia, semuanya, dia pinter banget," ujar Mezty, salah satu personel 7 Icons.

Namun, tampaknya kerja bareng itu belum bisa diwujudkan. Sebab, mereka dan pihak manajemen mereka belum mengajukan permohonan tersebut kepada yang bersangkutan. Seandainya kesempatan itu datang, mereka akan lebih banyak belajar supaya bisa mengimbangi Agnes.

"Belum pernah ngajuin. Karena kami masih harus banyak belajar lagu untuk bisa satu panggung dengan dia," kata PJ, personel lain 7 Icons.

Dalam kesempatan itu, mereka juga menyampaikan harapan untuk bisa mengikuti jejak Agnes, yang pernah jadi salah satu host untuk acara karpet merah American Music Awards 2010 dan masuk nominasi Worldwide Act - Asia Pasicic dalam ajang MTV Europe Music Awards 2011. Mereka ingin bisa menembus pasar luar Indonesia. "Mudah-mudahan ada kesempatan go international. Mudah-mudahan bisa membanggakan bangsa Indonesia," ujar PJ. (Willem Jonata)

Saturday, October 29, 2011

"Urban Jazz Crossover" Juga Hiburan Mata

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOSyaharani merupakan salah seorang vokalis yang tampil dalam Urban Jazz Crossover 2011.

SURABAYA, KOMPAS.com -- Sejak pertama kali digelar pada 2008, Urban Jazz Crossover tak semata menyuguhkan musik jazz yang dipadu dengan musik-musik lain. Tata panggung dan tata cahaya ikut menjadi tontonan yang memanjakan mata.

Begitu pula dengan Urban Jazz Crossover 2011, yang sudah sampai di kota ketiga, Surabaya (Jawa Timur), dari lima kota tur tersebut. "Yang kami harapkan, semua elemen bisa add on, tidak hanya menjadi background," kata Show Director Urban Jazz Crossover, Nanda, dalam wawancara di Grand City Convex, Surabaya, Kamis (27/10/2011).

Nanda membuat sentuhan atraktif pada lampu-lampu LED yang biasanya digunakan pada latar belakang panggung. "Nanti akan ada sensor see through. Semula (di panggung) akan terlihat (visualisasi) seperti TV rusak. Terus, (visualisasi itu) dihapus dengan (lampu) senter. Orang tidak pernah mengira sebelumnya kalau senter bisa jadi sensor. Jadi, setelah dihapus, pelan-pelan para pemain musik akan terlihat. Ide ini didapat saat pameran Dallas Motor Show," jelas Nanda.

Untuk menghadirkan efek visual itu, Nanda menggunakan teknologi yang tak biasa. "Ini bukan standar yang Indonesia pakai, tapi ini standar yang dipakai saat musical play," terangnya.

Namun, menghibur mata para penonton bukanlah perkara mudah bagi Nanda. "Jadi, supaya konsep see through ini berhasil, saya terpaksa mematikan lampu meja partitur (yang digunakan oleh para pemusik). Pemain brass dan pemain biola di beberapa lagu harus menghapal partitur yang mirip toge goreng itu, di beberapa lagu saja," terangnya lagi dengan bumbu canda. "Karena, kalau enggak begitu, cahaya lampu partitur akan tembus ke bagian depan LED," lanjutnya.

Menurut Event Manager dari PT HM Sampoerna Tbk, penyelenggara Urban Jazz Crossover, Astari Fitriani, visualisasi itu akan menambah mood dari setiap lagu yang disuguhkan. "Yang kami pikirkan cukup detail. Intinya, kami ingin pergelaran musik yang overall, tidak hanya menyajikan musik, tapi ada juga visualisasinya untuk menambah mood lagu. Harapan kami, orang akan ingat lagu itu pas lagi di zamannya," katanya.

Foster: Sebulan Penuh untuk Persiapkan Tur

KOMPAS.com — David Foster mengaku merasa beruntung bisa bekerja sama dengan nama-nama besar, seperti Michael Bolton, Philip Bailey, Ashanti, dan Charice, dalam konsernya "The Hitman Returns David Foster and Friends Asia Tour 2011" yang digelar di Jakarta, Jumat (28/10/2011) ini.

"Konser ini makan waktu satu bulan. Dua minggu untuk berlatih dan dua minggu lainnya kami melakukan tur," kata Foster dalam konferensi pers di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Jumat siang.

Menurut Foster, tidak mudah untuk mengumpulkan musisi-musisi kondang seperti mereka. "Yang paling sulit adalah menyesuaikan jadwal karena mereka memiliki jadwal yang padat. Tetapi, saya beruntung bisa tampil bersama mereka," ucapnya.

Dua di antara penyanyi yang diajaknya kali ini, yakni Michael Bolton dan Philip Bailey, diakui Foster sebagai teman lamanya. Dia sudah beberapa kali bekerja sama dengan kedua musisi itu.

"Saya bekerja sama dengan Philip Bailey saat saya mengerjakan album Earth, Wind and Fire," ujarnya untuk menunjukkan persahabatan keduanya. Bailey merupakan vokalis band Earth Wind and Fire.

Pelajar Wakatobi: Baru Kali Ini Pegang Kamera Ini

Workshop pembuatan film diberikan kepada 25 pelajar di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Kamis (27/10/2011), dalam rangkaian Indonesia International Environmental Film Festival.

WAKATOBI, KOMPAS.com — Sebagai bagian dari Indonesia International Environmental Film Festival (IIEFF) yang diselenggarakan pada 26-30 Oktober 2011 di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, sejumlah sineas pesertanya memberi workshop film secara cuma-cuma bagi para pelajar di Desa Waha, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Kamis (27/10/2011).

Para pemberi workshop itu antara lain sutradara film dokumenter Andi Arfan Sabran dari Makassar, Sulawesi Selatan; Chairun "Ilun" Nissa, sutradara film Purnama di Pesisir, yang akan diputar di IIEFF; dan Director of Photography BBC News Justin Robertson. Para peserta workshop tersebut sebanyak 25 pelajar dan dibagi menjadi lima kelompok. Ditemani angin semilir khas desa pantai, para peserta tampak bersemangat mengikuti workshop itu. Sejumlah ide ringan untuk film mereka utarakan.

Wantih, siswi kelas 1 Madrasah Aliyah Negeri Wangi-wangi, Wakatobi, yang juga biasa disebut Manowangi, merasa senang bisa ikut dalam workshop tersebut. "Kami tertarik dengan penggarapan suatu film. Kami mau tahu caranya buat film seperti yang ditonton. Dapat pelajaran, cara pengambilan gambar, pembuatan cerita, dari ide, pembuatan judul. Baru kali ini juga megang ini (kamera digital single lens reflex atau DLSR)," katanya.

Sebagai seorang mentor, Justin juga melihat bakat dari para peserta. "Mereka luar biasa. Saya yakin sekali mereka punya bakat yang besar dan film yang mereka buat akan bagus," ucapnya.

Nantinya, setiap kelompok akan membuat sebuah film pendek yang akan diputar pada Minggu dalam penutupan IIEFF.

Lala Karmela dan Dwiki Dharmawan di "Proud of Indonesia"

BANDUNG, KOMPAS.com - Pemusik kenamaan Dwiki Dharmawan dijadwalkan tampil dalam acara Proud of Indonesia di Festival Citylink, Jumat (28/10) malam ini. Tampil juga, penyanyi Lala Karmela di panggung yang sama.

Menurut PR Festival Citylink, Yeni Kurnaen, acara tersebut digelar dalam rangka ulang tahun mal yang terletak di sebelah barat Kota Bandung itu berbarengan dengan Hari Sumpah Pemuda. Acara Proud of Indonesia ini nantinya tidak hanya digelar hari ini saja.

"Akan ada 100 musisi anak bangsa yang tampil bergantian dalam panggung yang digelar setiap akhir pekan hingga pertengahan November," kata Yeni, Jumat.

Salah satu contohnya adalah Dira Sugandi, yang dijadwalkan tampil pada 6 November. Beberapa nama lain yang dirangkul meramaikan acara tersebut adalah White Shoes & The Couples Company, Gugun The Blues Shelter, Tohpati, dan Balawan.

Pembukaan acara itu direncanakan akan dilangsungkan pada pukul 18.30 oleh pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.  

Tuesday, October 25, 2011

Bicara Komedi Religi, Ya Ramzi

JAKARTA, KOMPAS.com — Ramzi Geys Thebe (35) makin memantapkan diri dengan perannya di sinetron islami. Ramzi yang kini tengah disibukkan dengan shooting sinetron Kupinang Kau dengan Bismillah ini memang telah menetapkan hati agar kiprahnya di dunia akting dapat memberinya manfaa, sekaligus ilmu.

”Selama tiga tahun terakhir, alhamdulillah selalu dapat karakter seperti itu. Kebetulan aku juga merasa berada pada tahap aku main sinetron enggak lagi sekadar main, tetapi dapat ilmu,” ujarnya.

Meski bermain di sinetron islami, karakter kocak tetap lekat dengan dirinya. ”Kalau karakter yang lucu-lucu itu, sebagai komedian, memang sudah sejak awal seperti itu. Jadi, ya enggak apa-apa. Artis kalau ingin bertahan lama harus punya ciri khas,” katanya.

Ramzi bersyukur citra yang telah dibangun sejak awal kariernya itu telah lekat dengan dirinya. Bukan hanya masyarakat, melainkan juga semua pihak yang berkaitan dengan produksi sinetron, seperti produser, sutradara, rumah produksi, hingga stasiun televisi mengenalnya sebagai seorang komedian. ”Citraku sudah terbentuk. Kalau komedi religi, ya Ramzi,” katanya.

Karena prinsipnya itu, Ramzi yang main di film Garuda di Dadaku dan Selendang Rocker ini juga cukup selektif memilih peran di film. ”Kalau tak sesuai, aku bisa menolak,” ujarnya. (DOE)

Jessica Simpson Tunda Menikah karena Hamil

NEW YORK, KOMPAS.com Rencana pernikahan Jessica Simpson dengan mantan pemain NFL Eric Johnson yang digelar pada November mendatang terpaksa ditunda. Penyebabnya, apalagi kalau bukan masalah perut Simpson yang semakin membesar.

November tahun lalu, pasangan yang telah dua tahun menjalin hubungan itu memilih bertunangan dan merencanakan pernikahan setahun kemudian. Namun, di tengah perjalanan, cinta begitu membara di antara keduanya.

Sejauh ini, penyanyi yang juga bintang film The Dukes of Hazzard itu masih enggan membeberkan soal kehamilannya kepada publik. Simpson bahkan sempat berkilah kalau dia tengah berbadan dua.

Namun, makin hari makin sulit bagi pemilik album A Public Affair itu untuk menyembunyikan kehamilannya. Senin (24/10/2011), penyanyi berusia 31 tahun itu terlihat berjalan di kawasan New York. Ia berusaha menutupi kehamilannya dengan mengenakan sweter ponco berwarna gelap.

Meski demikian, gelagat bahwa ia sedang hamil tak bisa ditutup-tutupi. Sambil membawa tas bercorak kulit leopard, tangan Simpson tak pernah lepas dari perutnya yang terlihat makin membesar.

Bila pernikahan mereka terwujud, bagi Simpson dan Johnson, maka ini akan menjadi pernikahan kedua. Sebelumnya, Simpson pernah menikah dengan penyanyi Nick Lachey. Namun, pernikahan mereka hanya bertahan 3 tahun. Begitu pula dengan Johnson, yang sebelumnya pernah menikah selama lima tahun dengan Keri Johnson.

"Sang Penari" Siap Dirilis

JAKARTA, KOMPAS.com — Apa jadinya bila film tentang budaya, politik, cinta terdapat dalam satu judul film? Ya, hal itulah yang akan ditemukan dalam Sang Penari. Film yang berlatar belakang di tahun 1950-1970 ini bercerita tentang perjuangan dan dilema Srintil (Prisia Nasution) juga Rasus (Oka Antara).

Pembaca Media Perempuan Kompas Gramedia pun mendapat kesempatan sebagai orang pertama yang menyaksikan film ini. Alhasil setelah menyaksikan film yang berdurasi lebih dari 90 menit ini mengaku takjub dengan Sang Penari.

"Filmnya keren banget, nggak nyangka aja. Dari segi musik, latar belakang, sampai akting tiap pemainnya dapat banget," ujar Eva Natali, salah satu penonton saat diwawancarai di Pondok Indah Mall, Jakarta, Minggu (23/10/2011).

Sang Penari sendiri merupakan adaptasi dari novel triologi berjudul Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Novelnya sudah memiliki cerita yang kuat dan penuh kritik sosial di era 1965.

Cerita itulah yang kemudian diadaptasi oleh Salman Aristo, penulis skenario yang juga mengerjakan Garuda di Dadaku dan Laskar Pelangi. Ia juga dibantu oleh Shanty Harmayn dan sang sutradara, Ifa Ifansyah.

Selain Oka Antara dan Prisa Nasution, masih ada sederet bintang ternama seperti Slamet Rahardjo Djarot, Tio Pakusadewo, Happy Salma, dan Zaenal Abidin Domba.

"Akhir filmnya juga enggak nyangka. Keren, sumpah, jadi pengen nonton lagi," ujar penonton yang lain.

Film yang diproduksi oleh KG Production, bekerja sama dengan Salto Production, Indika, dan beberapa pihak lainnya direncanakan akan tayang pada 10 November mendatang. Jadi, bagi penikmat film sejati, tampaknya merugi apabila tak menyaksikan Sang Penari.

Thirteen: Lagu Hardcore Pun Diakustikkan

JAKARTA, KOMPAS.com -- Secara garis besar, band Thirteen memiliki warna musik yang berada di luar arus utama industri musik Indonesia saat ini. Raynard Rheda Rahardja (vokal), Bondry Haryo Anabrang (gitar), Jodi Melani (vokal dan bas), Radityan Suhandi (drum), dan Rizky Zulfian (keyboard) mengawinkan rock, metal, post-hardcore, electronica, trance, pop, hingga jazz.

"Basic-nya, Thirteen punya passion musik yang enggak lazim, jauh dari mainstream. Musik kami lebih banyak ragamnya, walaupun nanti akan menjadi satu warna musik Thirteen," jelas Bondry alias Bobon, yang bersama rekan-rekannya meluncurkan album Thriteen-Epidemic, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu lalu (22/10/2011).

Thirteen mengaku tetap menatap pasar musik tanpa melunturkan idealisme mereka. "Untuk masalah idealisme, sebenarnya gimana pintar-pintarnya kami saja mengemasnya. Seperti tadi, beragam jenis musik dilebur, jangan sampai kayak ini itu enggak boleh," lanjut Bobon.

Dalam album Epidemic, growl Raynard ikut diimbangi oleh suara merdu Jodi, yang merupakan satu-satunya personel perempuan dalam grup asal Jakarta ini. Dengan dua karakter yang berbeda tersebut, Thirteen menjadi bertenaga sekaligus dinamis.

Thirteen pun siap diajak bermain akustik seperti pada lagu "Jakarta Story", yang dicipta oleh Raynard bersama motor band Vierra, Kevin Aprilio. "Raynard sama Kevin awalnya iseng bikin akustik 'Jakarta Story'. Terus, kami bilang ke Kevin, 'Gimana kalau dibikin full band?' Dan, Kevin setuju," cerita Radityan. "Karena sebenarnya enggak terlalu ke metal, atau lebih ke hardcore. Jadi, enggak ada masalah kalau dibawa ke akustik," timpal Raynard.

"Jakarta Story" disajikan dalam dua versi. Pada versi pertama, lagu tersebut terdengar cenderung galak dengan distorsi gitar dan growl. Namun, versi akustik lagu itu terdengar lebih merdu dengan Jodi bernyanyi sendiri diiringi permainan piano dan gitar. "Jadi, kata siapa musik hardcore enggak bisa disajikan akustik pakai gitar kopong," ujar Bobon.

Wawancara dengan Yockie (2): Sejak Keluar, Tak Ada Sepeser Pun dari God Bless

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOYockie Suryo Prayogo tampil dalam aksi seni dan renungan kebudayaan Indonesia Membaca Rendra, yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta, 29 Oktober 2009.

JAKARTA, KOMPAS.com -- Pada 20 Oktober 2011 dini hari, pemusik kawakan Yockie Suryo Prayogo (52), melalui wall akun pribadi Facebook-nya, membeberkan kepada publik konflik panjangnya dengan God Bless, band legendaris yang pernah dihuninya pada 1988-2003. Apakah yang menyebabkan Yockie tiba-tiba melancarkan aksinya itu? Silakan simak hasil wawancara yang dilakukan oleh Kompas.com terhadap Yockie di kediamannya di kawasan Serpong, Tangerang, Banten, 20 Oktober 2011 malam. Kali ini kami publikasikan bagian kedua dari hasil wawancara itu.

Benar atau tidak, Anda jadi paling dominan dalam God Bless karena karya Anda? Tapi, ternyata, selama ini saya hanya dianggap pelengkap saja. Kalau mau mencari pelengkap, ya silakan cari orang lain, jangan cari saya. Bahasa apa pun mau dipakai, boleh-boleh saja. Tapi, intinya, dalam menyikapi bahasa mereka, ada kecurigaan mereka bahwa, "Saya ini ingin berkuasa, saya ingin mengatur God Bless, saya ini ingin otoritas lebih mengatur semuanya."

Kalau kita bicara kerja kolektif itu, tidak ada istilah motor segala macam atau dominan. Ini dengan sendirinya akan eksis. Tapi, kalau suatu saat kemudian ada yang lebih dominan dalam hal kreativitas, dalam suatu ide, lalu kemudian dia menjadi inspirasi, itu automatically semua orang akan melihat.

Kemudian, kalau saya mencurahkan segala inspirasi saya di God Bless, itu bukan karena ingin dominan, tapi karena saya ingin berkarya. Kalau kemudian ada lagu "Kehidupan", ada lagu "Menjilat Matahari", yang kemudian diapresiasi banyak orang, itu bukan karena saya dominan, itu hanya karena kebebasan saya berekspresi. Tapi, kalau ini dianggap oleh dia mengganggu, kan justru celaka. Walah, ini kan repot. Apalagi kalau saya disuruh main organ (keyboard) saja, terus dia tidak usah ngomong (nyanyi), saya tinggal dikasih part-part saja untuk main begini, "Mending lo cari pemain lain saja."

Saya hanya ingin membedakan, mereka harus paham apa yang disebut pergaulan kreatif dan pergaulan non kreatif. Kalau pergaulan non kreatif itu seperti saya dengan Anda, bersahabat ya ngguyu, itulah yang disebut pergaulan non kreatif. Ada logika-logika lain lagi di pergaulan kreatif. Kalau ada yang lebih kreatif, "Ya lo enggak bisa menghalangi kreativitas gue dong." Tapi, kalau kreativitas saya ingin diperbaiki, ya hayu dibicarakan. Itu kan artinya dialektika kreativitas. Akhirnya, permasalahan pribadi dibawa ke kreativitas. Ini kan konyol.

Maaf ya, saya bukan mau melecehkan. Tapi, jelas saya mau mengatakan, mbok jangan goblok lah. Ini sudah 2011, bukan zaman dulu, yang bisa berdasarkan paternal feodalistic, hanya berdasar enggak enak lho, karena di lebih tua.

Sekarang enggak bisa gitu. Kalau salah, ya salah. Meskipun saya lebih tua, kalau saya salah, ya salah. Saya harus bisa menerima realita itu. Jangan mentang-mentang saya tua, tapi Anda lebih muda. Mengajar orang tua kan enggak begitu.

Kalau larangan dari Anda untuk membawakan lagu ciptaan Anda sebelum meminta izin dari Anda ditabrak dengan alasan permintaan penyelenggara konser, seperti apa tanggapan anda?

Itu kan lucu. Logika itu dibangun dari mana? Mereka berpikir seperti itu, logikanya seperti apa? Artinya, logika itu bisa dibenarkan seperti, "Lho saya enggak mau menyanyikan lagu itu, tapi saya terpaksa karena panitia yang memintanya." Ini akan dijadikan alasan pembenaran. Ini logikanya dari mana? Ini kan hanya anak kecil yang berbicara seperti itu. Sama halnya seperti, "Kenapa kamu nakal? Ya, sebenarnya saya enggak nakal, hanya saja diajakin tetangga, jadi saya nakal." Masak mau nyalahin tetangga sih? Ya enggak bisa dong. Ini tanggung jawab sendiri. Kalau mereka diminta main, kemudian pakai alasan diminta panitia, ya enggak bisa dong. Itu ya tanggung jawab mereka dong.   Apakah Anda sudah mulai membuat inventarisasi lagu-lagu ciptaan Anda?

Sudah, saya sudah menginventarisasi lagu-lagu saya. Tidak hanya sewaktu di God Bless saja, di (perusahaan rekaman) Musica (Studios) pun saya melakukannya, supaya lagu-lagu saya tertata dengan baik. Begitu pula lagu "Kesaksian" di Kantata. Sewaktu Hanung Bramantyo memakai lagu Kantata di film, saya langsung tegur dia, "Kenapa kamu enggak minta izin!" Gara-gara ini ada sedikit kesalahpahaman di Kantata. Padahal, semua bermuara di Hanung. Sebagai produser semestinya dia tahu etika, di lagu itu ada saya, ada Iwan Fals, ada Sawung Jabo. Tapi, kenapa Hanung minta izin ke Setiawan Djody. Ini masalah hak cipta, tapi dia keukeuh seperti itu, ini yang membuat saya kesal juga ke Hanung.

Masalah seperti ini kan harus kita hadapi. Bukan untuk tarik urat leher, tapi untuk diselesaikan baik-baik, gitu lho. Tapi, kalau enggak bisa secara baik-baik, ya harus secara hukum.

Apakah selama ini Anda mencicipi royalti lagu ciptaan Anda dari rekaman dan panggung God Bless?

Enggak ada, sepeser pun juga enggak ada. Kalau bicara God Bless, dari 2003 sampai hari ini saya tidak menerima sepeser pun. Cuma, bukan itu tujuan saya. Saya hidup di musik dari tahun 1970, bukan itu tujuan saya. Tapi, kalau dari musik saya bisa hidup, ya alhamdulillah.

Saya main musik bukan untuk hidup kok. Saya enggak butuh duit dari kalian. Cuma, kalau musik saya bisa kalian hargai sehingga orang bisa menghargai karya saya, dan orang membeli karya saya sehingga itu menjadi input materi buat saya, ya alhamdulillah.

Saya tidak mencari duit apalagi mencari popularitas. Paling tidak, apa yang saya lakukan itu yang kalian kaji. Menghargai lah, cukup menghargai saja.

Kalau ada alasan agak repot menentukan pencipta lagu dalam God Bless, apa pendapat Anda? Enggak bisa seperti itu, karena di God Bless semenjak 1988, di saat rekaman "Semut Hitam" itu, pendataan itu jelas, siapa yang mencipta itu jelas. Artinya, paradigma di God Bless berbeda dengan paradigma sewaktu saya di Kantata Takwa membikin lagu.

Kalau di Kantata, saat saya membikin lagu "Kesaksian" atau lagu apa pun juga, saya workshop dengan Iwan Fals dan Sawung Jabo. Bertiga saya workshop di studio. Saya biarkan Mas Iwan bernyanyi, Jabo juga main sendiri, saya main sendiri, terus saya rekam. Pelan-pelan notasi spontanitas itu saya bangun, saya simpan dalam laptop sebagai raw material, bukan lagu. Kemudian, setelah selesai, saya bawa ke studio sendirian. Kemudian, raw material itu, ada ekspresi saya, Iwan, dan Jabo, saya rancang menjadi notasi yang terukur, menjadi refrain dan lagu. Setelah jadi refrain dan lagu, saya bikin aransemen musik dasar. Setelah selesai itu, saya telepon Rendra (almarhum WS Rendra). Saya minta lirik buat lagu "Kesaksian". Itulah prosesnya. Jadi, proses sebuah lagu dalam Kantata semua bareng-bareng. Jadi, di lagu "Kesaksian" itu enggak bisa dibilang lagu Yockie sendiri atau lagu Iwan sendiri, tapi itu lagu Yockie, Iwan, Jabo, dan Rendra selaku penulis lirik.

Tapi, kalau di God Bless, tidak seperti itu. Di God Bless, selama rekaman, kami bergaul lebih intens hanya saat mau rekaman dan mau main. Di luar kegiatan itu kami tidak berhubungan. Artinya, di luar itu kami punya wilayah pergaulan berbeda. Jadi, kalau bicara rekaman, katakanlah kami akan rekaman tanggal 10, jauh-jauh hari sebelum tanggal 10 itu saya bikin lagu sendiri di rumah, kemudian masuk studio. Oke, setelah di studio mau lagu siapa duluan direkam, misalnya lagu Yockie duluan, setelah itu baru saya duduk di piano dan saya rekam lagu saya, lalu saya kasih guide untuk Donny (Donny Fattah Gagola) main bas, lalu untuk Ian (Ian Antono) main gitar, dan untuk Teddy Sudjaya main drum. Mereka lah yang merespon lagu saya. Jadi, prosesnya jelas, siapa komposer, siapa arranger, karena yang lain menyesuaikan, sesuai apa yang saya inginkan. Tapi, kalau kemudian mau nyoba yang lain sih terserah, asal jangan keluar dari pattern yang saya ciptakan atau pattern yang Ian dan Donny ciptakan.

Kalau kemudian ada lagu "Rumah Kita", yang Ian ciptakan, itu dia bikin sendiri, saya enggak ikut-ikutan. Dia main sendiri dengan gitar, saya dan yang lainnya menyesuaikan isi piano, isi bas, isi drum.

Jadi, di God Bless itu, enggak bisa diklaim itu lagu sama-sama. Tidak bisa seperti itu lah, karena memang tidak pernah bikin lagu sama-sama. Kalau pun ada, itu berdua. Seperti saya sama Donny di lagu "Semut Hitam", yang bermula dari gagasan Donny, terus saya yang bikin liriknya. Jadi, jelas itu bikinan Donny Fattah dan Yockie. Nah, kalau "Kehidupan" dan "Menjilat Matahari", itu bikinan saya. Apalagi, lagu "Raksasa".

Kalau dibilang repot menentukan siapa penciptanya, mungkin itu kasus Ian sendiri di God Bless sekarang ini, bukan kasus saya. Bisa saja itu kasus God Bless selama ini, yang sudah tanpa saya. Ini bukan terjadi di kasus saya.

Kalau sudah begini, apakah Anda dan God Bless bisa duduk bareng atau malah terpaksa melangkah ke wilayah hukum?

Seperti yang saya tulis di Facebook saya, saya ini motivasinya bukan untuk mempermalukan mereka atau bukan juga untuk memperebutkan masalah ekonomi royalti, bukan itu juga. Saya ini hanya ingin menegakkan etika, karena setelah bergaul di musik, saya juga bergaul di budayawan. Saya banyak belajar mengenai etika, bagaimana etika kita morat-marit. Ketika saya kembali ke dunia musik, ternyata etika kita ini sudah mulai kacau. Bukan mengenai mempermalukan orang atau mencari popularitas, tapi ini masalah etika.

Sudah sulit bagi saya untuk memakai cara-cara yang biasa, tapi ternyata mereka tidak paham, mereka tidak taat hukum. Kalau sudah tidak taat hukum, ya pantas saja mereka di mata saya sudah tidak tahu etika.

Jadi, God Bless masih bisa membawakan lagu ciptaan Anda?

Ya, itu dia etika. Ketika mereka sudah menyadari kekeliruan mereka, "Ternyata kita naif, ternyata kita enggak sadar akan kesalahan, enggak sadar hukum," masa saya mau menuntut ganti rugi masalah kenaifan itu? Ya enggak lah. Cuma, seterusnya, ya minta izin lah, karena ada aturannya, ada transaksi komersial itu ada yang melindungi dengan undang-undang. Kalau mereka memahami itu, ya silakan saja. Saya pun tidak ada masalah.

Tapi, kan selama ini saya tersiksa itu karena mereka tidak punya etika, melecehkan gue, membicarakan gue seenaknya, mencari duit pakai karya gue. Itu kan kesalnya di situ.

(berlanjut ke bagian ketiga)

Sule Cs Pelesetkan Nama 7 icons dan Lagu Warkop DKI

Grup nyanyi Sule Cs, yang tadinya memakai nama SMOSH, kini menjadi 7 Ikans.

JAKARTA, KOMPAS.com -- Girlband 7 icons mungkin sudah akrab bagi telinga anda. Bagaimana dengan 7 Ikans?

Grup vokal 7 Ikans, yang sebelumnya bernama SMOSH, terdiri dari tujuh pelawak--Sule, Parto, Andre, Aziz Gagap, Nunung, Opie Kumis, dan Adul. Hadir dengan nama 7 Ikans, mereka meluncurkan single pertama, "Andeca Andeci". Lagu yang sudah dipopulerkan oleh kelompok humor Warkop DKI itu mereka sajikan dengan lirik yang berbeda.

"Beda dengan 'Andeca-Andeci' ala Warkop DKI. Enggak baku kok pantunnya. Mungkin di tempat lain, pantun yang kami nyanyikan beda lagi," papar Parto ketika ditemui di Plaza Semanggi, Jakarta, Minggu (23/10/2011).

Klip video untuk single "Ande Andeci" itu juga sudah disiapkan. Masih sama seperti klip video SMOSH, klip video tersebut menebar humor yang bisa membuat para penontonnya tertawa.

7 Ikans mengaku dibentuk hanya untuk menghibur dengan memarodikan lagu-lagu yang sedang atau pernah populer. Mereka pun mengaku tidak menutup kemungkinan untuk berganti nama lagi. "Kalau mau lihat seriusnya SM*SH atau 7 icons, nah kami ini yang enggak seriusnya, SMOSH sama 7 Ikans," terang Andre.

Monday, October 24, 2011

Anwar Fuady: Kehilangan Sosok Perempuan Cerdas

JAKARTA, KOMPAS.com Dunia perfilman Tanah Air kembali berduka karena kehilangan Titie Said, penulis yang juga mantan Ketua Lembaga Sensor Film (LSF). Titie Said mengembuskan napas terakhirnya pada Senin (24/10/2011) sekitar pukul 18.45 dalam perawatan di Rumah Sakit Medistra, Jakarta.

Anwar Fuady, aktor yang juga anggota LSF sekaligus sahabat beliau, mengaku kaget saat mendengar kabar tersebut. Anwar memang telah mendengar sejak seminggu lalu bahwa penulis novel Perjuangan dan Hati Perempuan ini sudah dirawat akibat penyakit strokenya.

"Kaget, sangat kaget. Saya dengar sejak seminggu lalu masuk rumah sakit, dan tiga hari sebelumnya masih bercanda sama saya," tutur Anwar Fuady kepada Kompas.com saat dihubungi via ponselnya, Senin (23/10/2011) malam.

Pria 64 tahun itu memandang sosok beliau adalah perempuan yang cerdas. Titie Said juga seorang yang humoris. "Seorang tokoh yang baik, polos, cerdas, dan ramah pada semua orang," ujarnya lagi.

Kini Anwar dan segenap masyarakat film mengaku amat kehilangan beliau. Sosok Titie tak akan bisa tergantikan. Anwar sendiri mengaku punya kenangan yang tak akan terlupakan. "Beliau orang yang pertama memanggil saya dengan nama panggilan Anfu, yang sampai saat ini melekat pada saya," katanya. 

Titie Said lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 11 Juli 1935. Pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Sensor Film dua periode (2003-2006, 2006-2009). Tahun 2009 hingga sekarang, Titie tercatat sebagai anggota Lembaga Sensor Film. 

Sebagai novelis, Titie telah menulis 25 novel hingga tahun 2008. Beberapa novel karya Titie, antara lain, Jangan Ambil Nyawaku (1977), Reinkarnasi, Fatima, Ke Ujung Dunia, dan Prahara Cinta (2008). Sedangkan kumpulan cerita pendeknya adalah Perjuangan dan Hati Perempuan (1962).

Iis Dahlia: Yuni-Raffi Sering Berantem

JAKARTA, KOMPAS.com -- Kabar keretakan penyanyi Yuni Shara dan Raffi Ahmad sedikit demi sedikit mulai terkuak. Tak hanya sekali ini saja keduanya bertengkar. Menurut pedangdut Iis Dahlia, sahabat Yuni, keduanya kerap kali putus sambung. 

"Raffi ama Yunet (sapaan akrab Yuni) tuh, berantem biasa. Sama, semua hubungan gitu. Mereka putus sudah biasa. Ntar juga balik lagi," ujar Iis Dahlia, saat ditemui di Studio Guet, Kalibata, Jakarta Selatan.

Sebagai sahabat, penyanyi dangdut yang terkenal dengan lagu 'Tamu Tak Diundang' itu, sangat mengerti perjalanan asmara Yuni dengan Raffi. Menurutnya, pertengkaran itu terjadi karena adanya perbedaan usia yang mencolok di antara keduanya. Yuni lebih tua 15 tahun dari kekasihnya itu.

"Pemicu banyaklah. Perbedaan mereka juga jauh. Jadi, Raffi yang muda. Sementara, si Yunet kan ibu-ibu yang sudah mengorganisir kehidupan," ucapnya.

Namun, pertengkaran antara Yuni dan Raffi bagi Iis merupakan sesuatu yang lumrah terjadi. Bahkan, pertengkaran mereka bisa berlangsung hebat. "Tiap berantem parah mereka berdua. Buat gue sih biasa. Kalau Raffi kan menggebu-gebu. Kalau Yunet sih lebih wise, karena sudah ibu-ibu," tandasnya.

Wawancara dengan Yockie (1): Ian Tak Melek Hukum

JAKARTA, KOMPAS.com — Pada 20 Oktober 2011 dini hari, pemusik kawakan Yockie Suryo Prayogo, melalui wall akun pribadi Facebook-nya, membeberkan kepada publik konflik panjangnya dengan God Bless, band legendaris yang pernah dihuninya pada 1988-2003. Apakah yang menyebabkan Yockie tiba-tiba melancarkan aksinya itu? Silakan simak hasil wawancara yang dilakukan oleh Kompas.com terhadap Yockie di kediamannya di kawasan Serpong, Tangerang, Banten, 20 Oktober 2011 malam. Hasil wawancara itu kami publikasikan ke dalam beberapa bagian.

Mengapa tiba-tiba Anda membuka tabir konflik Anda dengan God Bless, termasuk kejadian tahun 2003 (menurut Yockie, ia sampai ditodong dengan senjata api genggam), yang selama ini menjadi rahasia God Bless?

Saya berbicara pascakejadian ya. Jadi, sebetulnya semenjak 2003 itu tentu saja bukan saya sendiri. Kami semua berusaha berpikir rasional ya. Kami kan bukan anak kecil lagi, bahkan sudah dewasa dan masuk ke usia tua ya. Jadi, tentu pertimbangannya tidak mau ribut-ribut.

Hanya saja, dunia terus bergerak, zaman bergerak. Kalau dulu, di zaman 1970-an, orang main musik dianggap hobi. Artinya, profesi musik hanya sambilan. Kami tidak mendapat legitimasi pengakuan bahwa itu suatu profesi yang cukup bisa menjadi sandaran. Karena itu, pada saat itu hukum dan aturan tidak ada sehingga banyak lagu saya yang tidak jelas di mana masternya. Proses itu yang melatarbelakangi saya di zaman yang mulai berubah dan membuat saya ingin melakukan pembenahan mengenai apa saja yang saya lakukan sepanjang hidup, yang dulu tidak terfasilitasi oleh undang-undang dan peraturan, oleh hukum dan mekanisme, banyak hal.

Bukan kasus ini saja, banyak pula lagu saya di Musica Studios yang saat saya rekaman ingin saya benahi semua. Banyak pula yang di luar studio, lagu-lagu saya ingin saya benahi semua. Dengan Dian Pramana Putera dan penyanyi lain yang enggak jelas juga ingin saya benahi semua.

Selama proses itu berjalan, khususnya lagu-lagu saya di God Bless itu, saya mencoba menempuh jalan yang agak berbeda. Okelah, saya tempuh cara-cara yang lebih bijaksana, persuasiflah, dengan harapan akan ada suatu komunikasi yang terjalin hingga akhirnya bisa disesuaikan baik-baik. Itu intinya.

Kejadian pertama setelah peristiwa itu (kejadian 2003), mereka (God Bless) main di sebuah acara di (panggung majalah) Rolling Stone (di Jakarta), ada acara pemberian anugerah. Mereka main di depan saya, juga tanpa ada suatu pernyataan bahwa apalah atau ada upaya menjalin komunikasi untuk lebih baik. Bahkan, saya yang harus menghampiri mereka dengan upaya marilah kita berkomunikasi dengan baik-baik agar usaha saya menginventarisasi lagu-lagu saya bisa dilakukan baik-baik.

Lagu saya kan banyak, saya tidak menyebutkan lagu A atau lagu B. Itu yang pengin saya benahi di God Bless. Lagu itu bukannya enggak jelas, semua jelas di God Bless, pencipta siapa, lirikus siapa, itu jelas. Hanya, semua hukum belum tertata zaman dulu, tetapi sekarang sudah tertata dengan baik.

Lalu bagaimana respons God Bless menanggapi usaha Anda itu?

Upaya persuasif secara pertemanan dan persaudaraan itu sudah saya lakukan, tetapi juga tidak mendapatkan respons dengan baik. Bahkan, di salah satu media pernah saya baca, Yockie keluar dari God Bless, itu jawabannya (God Bless) selalu menyakitkan hati saya. Antara lain, kalau boleh saya katakan, 'Ya, sudah enggak butuh Yockie saja' atau ada juga yang mengatakan, 'Sama Yockie sudah enggak cocok, Yockie warnanya berubah, bukan warna God Bless lagi.' Buat saya ini menyakiti hati saya karena bukan itu permasalahannya. Namun, saya diam saja. Saya tidak menuntut karena saya juga enggak mau ribut-ribut. Sampai beberapa kali saya singgung ke teman-teman, tetapi enggak ada tanggapan juga.

Sampai pada akhirnya mereka main di acara legenda kemarin (Let's Have Fun with the Legends di Jakarta, 16 Oktober 2011), istri saya mengatakan, 'Mereka itu gimana sih, kok enggak minta izin juga?' Dari situ akhirnya saya tulis di Facebook saya, 'Gimana sih orang-orang itu'. Padahal, ini sudah delapan tahun (dari 2003). Saya selalu mengajak mereka bicara baik-baik. Saya undang mereka ke acara konser saya, dengan harapan ketika mereka datang, kami bisa berbicara baik-baik. Tapi, mereka juga tidak datang. Yang datang hanya Donny Fattah Gagola.

Donny pun juga tidak bisa bilang apa-apa. Ia hanya bilang, 'Yock, sebenarnya banyak yang bisa kita obrolin, tapi gue enggak ngerti harus ngomong apa.' Jadi, Donny memang tahu banyak yang harus diobrolin, tetapi dia tidak bisa memutuskan apa-apa karena kan (God Bless) kolektif.

Saya sempat menanyakan ke Donny, 'Mana Iyek (Achmad Albar)?' Donny bilang, 'Iyek macannya lagi sakit. Dia kan melihara macan.' Terus, saya tanya lagi, 'Ian ke mana?' 'Ian lagi rekaman,' jawab Donny. Ya sudah, saya iya-iyain saja, meski saya kecewa. Sama sekali saya tidak menanggapi kalimat arbitratif yang menyakiti saya.

Apakah Anda merasa God Bless kurang memahami masalah undang-undang hak cipta?

Selalu saja ada obrolan yang saya dengar, 'Lho lagu itu kan di grup. Kalau lagu sudah di grup, ya milik sama-sama dong!' Nah, dari situ saya merasa ada missleading, ada yang salah mengerti mengenai aturan main, ada yang kurang mengerti masalah hukum.

Jangan dipikir sekarang ini tahun 1970-an. Ini 2011 nih, bukan zaman-zaman itu. Oh, ternyata mereka enggak tahu aturannya. Kalau mereka enggak tahu aturannya, jangan berbuat seenaknya dong. Ini yang membuat saya harus bergerak supaya mereka taat aturan, supaya mereka melek hukum.

Terlebih lagi, hari ini (20/10/2011), saya baca di media, yang merespons balik itu Ian Antono. Dia mengatakan persis seperti yang teman saya katakan di akun Facebook saya. Dia mengatakan bahwa, 'Tidak ada larangan dalam sebuah grup menyanyikan lagu orang lain kecuali untuk rekaman.'

Nah, ini mereka enggak mengerti ya. Performing rights pun dilindungi. Ada undang-undangnya. Sejauh itu ada transaksi ekonomi, itu pasti dilindungi oleh hukum. Kecuali mereka mau main di acara sosial, bakti sosial, bencana alam, yang tidak ada uangnya, itu sah-sah saja. Tapi, kalau sudah masuk ke wilayah komersial, itu sama saja wilayah hukum, tidak bisa seenaknya. Artinya, Ian Antono sendiri tidak melek hukum.

Oleh karena itu, saya pikir, saya tidak bisa lagi sendiri. Ini wilayah hukum yang berbicara, ya kan? Saya, melalui biro hukum saya, meminta berbicara ke mereka, ini lho aturannya, agar jangan seenaknya menyanyikan lagu orang karena performing rights pun ada aturannya, dilindungi. Selama itu berhubungan dengan komersial, harus dilindungi.

Jadi, kalau pertanyaannya kenapa baru sekarang (diungkap), itu karena saya selama ini berusaha meredam. Mereka mau ngomong bahwa saya inilah, itulah, itu saya enggak mau tanggapi. Cuma, saya mendapat informasi bahwa ucapan mereka itu sudah kelewatan. Kesabaran saya bukannya habis, tapi sudah cukuplah waktunya.

Mereka mengklaim sudah beberapa kali berusaha meminta izin kepada Anda, tetapi sulit. Apakah benar seperti itu?

Tidak! Saya bantah itu. Saya bantah itu dengan tegas! Tidak ada pernah satu pun, entah itu Donny Fattah, Achmad Albar, Ian Antono, secara langsung meminta izin untuk merekam lagu "Kehidupan" atau "Menjilat Matahari" atau apapun itu untuk direkam. Tidak pernah sama sekali.

Apa ada upaya untuk saling berangkulan kembali?

Memang pernah, pada awal 2004, Ian Antono mengadakan pertemuan dengan saya, baik pertemuan secara langsung maupun telepon, sekali-dua kali untuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan mengadakan reunian, bukan membicarakan masalah rekaman. Ibaratnya, Ian berusaha menjadi penengah. Ibarat kasarnya, 'Sudahlah, kita kan sudah tua-tua. Sudahlah, kita baikan lagi.'

Saya pun menyambut iktikad baik dia. Saya pun punya iktikad serupa. Apalagi, yang mengajak dia ke God Bless itu kan saya. Dalam hati saya, 'Sudahlah enggak usah mikir tua karena kita ini sudah pada tua.' Tapi, saya katakan kepada Ian, 'Apakah kamu bisa jamin yang bersangkutan sudah sembuh (dari narkoba)?'

(berlanjut ke bagian kedua)

Drew Pearce Akan Garap Skenario "Sherlock Holmes 3"

LOS ANGELES, KOMPAS.com -- Perusahaan film Warner Bros telah memilih penulis Drew Pearce, penulis naskah Iron Man 3, untuk menulis skenario sekuel ketiga Sherlock Holmes, satu bulan sebelum film keduanya dirilis.

Sherlock Holmes: A Game of Shadows baru akan tayang pada 16 Desember, namun Warner Bross telah berencana membuat film ketiga tentang petualangan detektif tersebut.

Hollywood Reporter melaporkan, Drew Pearce adalah penulis naskah yang tengah bersinar dan juga kreator serial TV satir superhero No Heroics di Inggris.

Selain menulis naskah Iron Man 3 untuk Marvel Studios, Pearce juga menggarap naskah adaptasi The Mighty dari DC Comics yang diproduksi Paramount.

Pengerjaan naskah sekuel ketiga Sherlock Holmes itu akan mempertemukannya kembali dengan Robert Downey Jr, bintang Iron Man 3.

Penunjukan lebih awal penulis naskah film Holmes yang juga dibintangi aktor Inggris Jude Law itu juga terjadi saat Warner Bross meminta Michele dan Kieran Mulroney untuk menggarap Holmes 2, tiga bulan sebelum film pertama keluar pada Desember 2009.

Ini adalah langkah antisipasi Warner Bross dalam melanjutkan sekuel Holmes yang diprediksi bakal ngehit.

Ketika Jiwa Keaktrisan Gwyneth Paltrow Muncul Lagi

LOS ANGELES, KOMPAS.com — Gwyneth Paltrow (39) berhenti mencurahkan perhatiannya terhadap akting saat memiliki anak. Aktris peraih Oscar—yang memiliki dua anak, Apple (7) dan Moses (5), dari suaminya, pentolan band Coldplay, Chris Martin—ini mengatakan, dia kehilangan ”rasa” sebagai aktris setelah melahirkan Apple. Rasa itu, katanya, baru kembali beberapa tahun belakangan ini.

”Saat pertama kali punya anak, aku tak ingin berada di mana pun, kecuali bersama mereka. Sekarang mereka sudah makin besar dan merasakan diriku kembali lagi sebagai aktris. Jika beruntung, mungkin aku bisa jadi seperti Meryl Streep. Tapi, aku tetap harus banyak main film dan mendapat banyak penghargaan,” tutur aktris yang main di Iron Man dan Country Strong ini.

Paltrow cukup puas dengan peran kecilnya di Contagion dan drama musikal televisi Glee karena bisa bekerja tanpa harus meninggalkan anak-anaknya dalam waktu lama. ”Aku baru saja menikmati liburan musim panas bersama mereka dan sekarang mereka sudah kembali ke sekolah. Yang aku lakukan kemudian adalah mencari peran pendukung yang menarik,” tambahnya.

”Saat aku tampil di Glee, orang-orang senang karena bisa melihat diriku yang sesungguhnya. Sisiku yang konyol, menyanyi dan menari,” katanya.

Sunday, October 23, 2011

Kegairahan George Clooney di Balik Layar

LOS ANGELES, KOMPAS.com Setelah terlibat banyak film, aktor George Clooney makin menunjukkan kegairahannya menjajal karier di belakang layar. Alasannya, tentu saja, karena masalah umur.

"Kecenderungannya memang ke arah sana karena semua tahu, makin tua makin sedikit peran yang bisa kita mainkan," ujarnya. "Dan, saya ingin menjadi bagian dari bisnis ini dalam waktu yang lama. Kemungkinan sesegera mungkin. Ketika Anda tua, tentu saja harus mencari pekerjaan lain," lanjutnya.  

Langkah menjajal dunia baru telah diperlihatkan Clooney lewat Good Night, and Good Luck. Lewat film ini, Clooney dinominasikan meraih Oscar sebagai sutradara dan aktor pendukung terbaik. Catatan sejarah pun ditorehnya. Ia menjadi orang pertama dalam sejarah Oscar yang dinominasikan secara bersama sebagai aktor sekaligus sutradara.

Pekan ini, film terbaru yang disutradarainya, The Ides of March, akan dirilis di jaringan bioskop dunia. Selain mengarahkan pemain, ia juga turut menjadi bintangnya.  

Di film ini, dia akan bermain dan mengarahkan aktris dan aktor semacam Ryan Gosling, Phillip Seymour Hoffman, Paul Giamatti, dan Evan Rachel Wood.  

Rencananya, film tersebut akan dirilis pada 28 Oktober mendatang.

Dewi Perssik Dihadiahi Berlian Hampir Rp 1 Miliar

JAKARTA, KOMPAS.com — Penyanyi dangdut dan pemain film Dewi Perssik (DP) ternyata telah mendapat hadiah istimewa berupa perhiasan berlian seharga hampir Rp 1 miliar. Dari siapa dan atas dasar apa? Hmmm....

Sang pemberi adalah produser film berdarah India KK Dheeraj, produser film Pacar Hantu Perawan. Dheeraj mengaku, perhiasan tersebut merupakan tanda terima kasihnya kepada DP karena film yang dibintangi oleh DP itu dinilainya berhasil. "Nilainya (perhiasan tersebut) ya hampir Rp 1 M (miliar)-lah ya. Habis kan, berlian itu sangat cocok banget buat perempuan. Kebetulan berlian juga punya nilai yang sangat tinggi. Pokoknya, hadiah itu sebagai ucapan terima kasih saja," tutur Dheeraj kepada Kompas.com, Senin (24/10/2011).

Dalam film tersebut, DP beradu akting dengan dua bintang porno, Vicky Vette dan Misa Campo. Namun, hadiah tersebut hanya diberikan oleh Dheeraj kepada DP dengan alasan tersendiri. "Masa yang dikasih bintang porno. Bagaimanapun saya kasih ke orang Indonesia," katanya.

Beberapa waktu lalu, pada pemutaran perdana Pacar Hantu Perawan di Jakarta, DP mengaku banyak adegan dalam film tersebut sudah disensor. "Jadi, anak kecil juga boleh lihat," ujar DP ketika itu.

Belum Punya Anak, Dhea Ananda Tak Kesepian

JAKARTA, KOMPAS.com -- Penyanyi dan pemain sinetron Dhea Ananda (25) dan gitaris grup Nidji Andi Ariel Harsya (28), yang menikah pada Oktober 2009, memang belum dikaruniai anak sampai saat ini. Tapi, Dhea mengaku tak merasa kesepian dalam berumah tangga dengan Ariel.

"Masih banyak kerjaan juga, enggak kesepian jadinya. Kami juga sering saling menemani. Kalau misalkan dia ada acara, aku juga sering nemenin, begitu sebaliknya," ujar pemilik nama asli Nadia Budi Ananda ini.

Dhea mengaku pula, ia dan Ariel tidak memaksakan diri untuk punya anak, meski rasa ingin menimang momongan sudah ada. "Kalau Tuhan udah mau ngasih, ya pasti akan terwujud. Dibikin santai aja sih, dengan diselingi doa dan ibadah," ujar Dhea lagi.

Orangtua kedua belah pihak pun tak mendesak mereka untuk segera punya anak, sehingga mereka tidak merasa terbebani.

Malam Ini, Trio Lestari Goyang Bandung

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZESArtis Sandhy Sondoro, Tompi dan Glen Fredly (kiri ke kanan) yang tergabung dalam grup musik Trio Lestari.

JAKARTA, KOMPAS.com -- Tiga penyanyi papan atas Indonesia, Tompi, Glenn Fredly dan Sandhy Sondoro, yang tergabung dalam kelompok Trio Lestari, siap menyajikan hiburan yang berbeda dalam aksi panggungnya di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung, Selasa (25/10/2011) malam nanti.

Penampilan Trio Lestari di Bandung ini, merupakan bagian dari rangkaian tur kedua mereka, setelah sebelumnya sukses di gelar di Yogyakarta, Solo, Jakarta, Manado, Makassar, Surabaya, Pekanbaru, Medan, dan Balikpapan.

Promotor Rajawali Indonesia Communication Anas Syahrul Alimi mengatakan konser ini merupakan konser sesi kedua. "Bandung jadi pilihan kota pertama dari rangkaian roadshow sesi kedua konser Trio Lestari," ujarnya dalam rilisnya yang diterima Kompas.com, Selasa (25/10/2011).

Pada konser pembuka sesi kedua di Bandung, Trio Lestari bakal mengusung tajuk  "A Special Night with Trio Lestari", di mana konser lebih spesial lantaran konsep pertunjukan digagas sendiri oleh para personel Trio Lestari. "Pastinya, konser mereka akan berbeda dengan konser sebelumnya," ujar Anas.

Selain itu dikatakan Anas, nama besar Tompi yang terkenal melalui album Bali Lounge, T, dan Soulful Ramadan, serta kiprah Glenn Fredly dan Sandhy Sondoro, menjadi jaminan suguhan hiburan musik yang membuaikan para penonton.

Ketiganya akan tampil dengan iringan big band sehingga memberikan aksi yang lebih menghibur.

Untuk konser malam nanti, pihak promotor memasang banderol mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 425 ribu. 'Kami membaginya dalam empat kategori kelas. Yang termahal Platinum seharga Rp 425 ribu,' jelasnya.

Sementara itu, Tompi menyambut dengan begitu antusias terhadap rencana penampilannya malam nanti. 'Kami tidak ingin memberikan konser yang biasa-biasa saja. Ini konser yang berbeda, tentunya akan banyak kejutan yang akan kami hadirkan di event ini,' kata penyanyi bernama Teuku Adifitrian.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Sandhy. Musisi yang meroket pamornya di negeri seberang itu mengaku sudah tak sabar untuk menghibur para penggemarnya. 'Ini kolaborasi yang sungguh menyenangkan. Kami tentunya juga ingin memberikan pertunjukkan yang bagus kepada para penggemar kami di Bandung malam nanti,' kata Sandhy.