Monday, February 28, 2011

DJ Riri: Fitnah Alvin-Alice Bisa Jadi Bumerang

JAKARTA, KOMPAS.com -- Selang dua hari pasca-insiden di salah satu klab ternama di Bandung, DJ Riri mengaku bisa sedikit bernapas lega begitu mengetahui ada seseorang yang memiliki video rekaman saat terjadi keributan yang melibatkan dirinya dengan DJ Alvin dan Alice Norin, mantan istrinya yang kini jadi kekasih Alvin.

Dari alat bukti video rekaman tersebut, Riri semakin yakin bahwa Alvin telah melakukan pencemaran nama baik dengan melayangkan laporan palsu atas pemukulan ke Polres Bandung.

"Kami ada sumber yang punya video, nanti kami lihat videonya, nanti juga bisa diakses langsung," jelas Riri dalam jumpa pers di Barcode, Kemang, Jakarta Selatan, Senin (28/2/2011).

Dengan adanya bukti rekaman tersebut, Riri merasa posisinya kini justru diuntungkan. "Ini sebagai pencemaran nama baik, kalau fitnah ini terus dibawa mereka akan menjadi bumerang sendiri untuk mereka," tegas Riri.

"Di beberapa media massa, Agung, asistennya Alice, juga bisa kena juga sebagai pencemaran nama baik. Karena peristiwa injak-injak itu beneran enggak ada. Kan kata dia, diinjak segalalah," lanjutnya.

Agar masalah tak berkepanjangan, Riri berharap Alvin dan Alice menarik laporannya. "Ya jelas ini pencemaran nama baik, saya dianggap seorang yang sadis, kami enggak mau juga disangka orang yang sadis sama orang. Memang harusnya mereka mencabut perkara dan minta maaf, kami enggak mau fight back dan itu bukan kami banget, sebetulnya cuma kalau mau tetep lanjut ya bolehlah," tandasnya.  

Piyu: Kasus Yoyok Tak Pengaruhi PADI

Penabuh drum band Padi, Surendro Prasetyo alias Yoyok (tengah), harus menjalani pemeriksaan, Minggu (27/2/2011), oleh Unit 2 Narkoba Mabes Polri di Badan Narkotika Nasional, setelah ditangkap karena menggunakan sabu di Sudirman Park Tower B, lantai 40 ruang BA, Jakarta Selatan, Minggu (27/2/2011) dini hari.

JAKARTA, KOMPAS.com  -- Piyu, gitaris grup band PADI, menjamin bahwa kasus pidana penyalahgunaan narkoba yang diduga dilakukan penggebuk drum Yoyok, tidak akan memengaruhi proses kreatif para personelnya.

"Tidak, kasusnya tidak berpengaruh" tegas gitaris Piyu "PADI"," usai jumpa pers 'Piyu 3,0: Mengapa Musisi Harus Berubah', di Phillip Kotler Hall MarkPlus Institute, Segitiga Emas Business Park, CBD B 01/01, Jl. Prof Dr. Satrio, Jakarta Selatan, Senin (28/2/2011).

"Enam bulan kami (PADI) memang sudah memutuskan untuk vakum dulu. Alasannya, karena memang enggak ada kegiatan." lanjutnya.

Selama rehat tersebut, para personel PADI lainnya ---Fadli (vokal), Ari (gitar), dan Rindra (bas)---akan fokus dulu dengan proyek sampingan mereka masing-masing. "Fadli sama Rindra baru pulang dari Malaysia, mereka memproduseri penyanyi asal Mesir di sana. Ari juga kan punya studio, dia sibuk di situ. Dan saya memutuskan untuk pembuatan buku. Kalau Yoyok dia memang banyak proyeknya," jelas Piyu.

Belum lama ini, PADI baru saja merilis single terbaru mereka yang diberi judul 'Tempat Terakhir'. Menyusul ditahannya penggebur drum PADI dengan sangkaan kasus narkoba, Piyu menjamin tak akan memengaruhi eksistensi PADI dalam berkarya. 

"Kami memang memutus membuat single, tapi kami diperbolehkan untuk cari kesibukan lain karena PADI lagi vakum, Yoyok juga banyak side job-nya," imbuh Piyu.  

Keluarga Ingin Yoyok Direhabilitasi

Penabuh drum band Padi, Yoyok , menjalani pemeriksaan di unit 2 Badan Narkotika Nasional ( BNN) Bareskrim Mabes Polri setelah ditangkap karena menggunakan narkotika jenis sabu-sabu di apartemen Sudirman Park, Minggu (27/2/2011) dini hari.

JAKARTA, KOMPAS.com — Hingga saat ini tak banyak yang bisa dilakukan pihak keluarga Surendro Prasetyo alias Yoyok "PADI" begitu mengetahui kabar  mantan suami vokalis Rossa itu diciduk polisi pada Minggu (27/2/2011) lalu karena kedapatan mengonsumsi dan memiliki sabu seberat 0,5 gram.

Mewakili pihak keluarga, Sugiarto, paman Yoyok, mengatakan, keluarga menyerahkan penanganan kasus yang dialami Yoyok itu kepada kuasa hukum Noni T Purwaningsih, SH.

Masih menurut Sugiarto, pihak keluarga belum berencana membesuk Yoyok yang masih menjalani pemeriksaan di Badan Narkotika Nasional (BNN). "Belum tahu, kami serahkan kepada pengacaranya. Tapi nanti pasti ada waktunya," kata Sugiarto ditemui di ruang Unit II Direktorat IV Gedung BNN, Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Senin (28/2/2011).

Namun, lanjut Sugiarto, pihak keluarga berharap Yoyok bisa segera menjalani rehabilitasi ketergantungan narkoba. "Keinginan dari keluarga ingin segera direhabilitasi, itu saja," ujar Sugiarto.

"Ya, semua tentunya kaget, ya namanya keluarga kalau mendengar musibah seperti ini, kami prihatin," sambungnya.

Sepuluh Tahun Yoyok Jadi Pecandu Heroin

Penabuh drum band Padi, Surendro Prasetyo alias Yoyok (tengah), harus menjalani pemeriksaan, Minggu (27/2/2011), oleh Unit 2 Narkoba Mabes Polri di Badan Narkotika Nasional, setelah ditangkap karena menggunakan sabu di Sudirman Park Tower B, lantai 40 ruang BA, Jakarta Selatan, pada dini hari.

JAKARTA, KOMPAS.com — Sisi gelap penggebuk drum Surendro Prasetyo atau Yoyok "PADI" lambat laun mulai terungkap, menyusul penangkapannya oleh pihak kepolisian terkait kasus  narkotika jenis sabu, pada Minggu (27/2/2011)  sekitar pukul 02.00 WIB di Apartemen Sudirman Park Tower B.

Kepada kuasa hukumnya, Noni T Purwaningsih, mantan suami penyanyi pop Indonesia Rossa tersebut mengaku pernah kecanduan heroin selama sepuluh tahun. "Ada yang perlu saya luruskan di mana Mas Yoyok pakai heroin sepuluh tahun ke belakang, sebenarnya (Yoyok) pernah pakai dari 1995-2005 lalu stop," beber Noni dalam jumpa pers di kantor E-Motion, Jakarta Pusat, Senin (28/2/2011).

Menurut Noni, sejak tahun 2005 itu, Yoyok berhasil berhenti dengan sendirinya dari ketergantungan heroin. Namun, karena tak menjalani rehabilitasi, rasa sakau pun menjadi penyakit kambuhan ketika pria berkepala plontos itu depresi. "Karena stopnya ini tidak direhabilitasi oleh dokter, ketika dia stres atau depresi maka dia akan mencobanya lagi. Nah, Mas Yoyok mencobanya dengan media yang lain, yaitu sabu," ujar Noni.

Yoyok saat ini masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Badan Narkotika Nasional untuk kemudian akan dipindahkan ke tahanan Mabes Polri. "Dari kemarin, klien saya sudah menjalani proses secara hukum, sampai akhirnya sudah dikeluarkan surat penahanan sesuai dengan KUHAP," tandas Noni.  

Thomas "GIGI" Bela DJ Riri

JAKARTA, KOMPAS.com -- Pemain bas grup band GIGI, Thomas, yang kebetulan menjadi artis pengiring DJ Riri saat mengisi pertunjukan di sebuah klab di kawasan Sulanjana, Bandung, akhir pekan lalu, mengaku tak habis pikir mengapa insiden dengan DJ Alvin bisa terjadi.

Padahal, di mata Thomas, DJ Riri, yang kini beristrikan Ola Hariska, itu tidak memiliki musuh. "Gue kenal Riri sudah lama banget, dari 2001 sering main bareng. Selama ini enggak pernah kejadian ribut, dan gue mikir siapa sih musuhnya Riri di Bandung?" kata Thomas usai jumpa pers klarifikasi Riri, di Barcode, Kemang, Jakarta Selatan, Senin (28/2/2011).

Thomas menjamin jika sikap Riri tidaklah seperti yang ditudingkan oleh Alvin. "Alhamdulillah pas bareng urusan saya sama dia bikin proyekan musik enggak pernah kayak gitu," tekan Thomas.

Thomas yakin Riri tidak bersalah. "Saksinya banyak, ada yang videoin saya dan motret saya dan Riri, karena saya ambil bagian jadi artis," tutup Thomas. 

Tuesday, February 22, 2011

Akhirnya Angie Curahkan Isi Hatinya...

Istri almarhum Adjie Massaid, Angelina Sondakh, bersama putranya Keanu Jabaar Massaid, tak kuasa menahan tangis saat pemakaman suaminya, di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Sabtu (5/2/2011). Almarhum meninggal dunia pada usia 43 tahun dengan indikasi karena serangan jantung usai bermain sepak bola.

JAKARTA, KOMPAS.com -- Setelah dua minggu ditinggal oleh suami tercintanya, Adjie Massaid, Angelina Sondakh akhirnya mencurahkan isi hatinya kepada publik di Stadion Gelora Bung Karno, Sabtu (19/2/2011). Angie hadir di sela-sela pertandingan yang digelar Trisakti Football Club, klub di mana Adjie biasa menghabiskan waktunya bermain bola, untuk mengenang almarhum.

Ini kali pertama Angie tampil di muka umum untuk bicara. Dalam wawancara singkat, Angie, yang mengenakan kaus hitam bergambar wajah suaminya di bagian depan, bertutur bahwa dirinya akhirnya memutuskan untuk berbicara kepada publik setelah hari-hari terberatnya. "Walau saya enggan kembali pada tempat yang membuat saya mengenang masa lalu, tapi saya kira Mas Adjie senang apa yang saya lakukan sekarang. Ini sudah dua minggu saya ditinggal Mas Adjie. Banyak dukungan, SMS, bahwa saya harus terus berjuang, ikhlas, sabar, dan tabah, dan ini saya kira waktu yang tepat untuk bangkit," ungkap Anggota Komisi X DPR RI ini sambil terisak.

Dukungan yang juga diterimanya melalui akun Twitter mengingatkan Angie bahwa anak-anak mereka--baik anak kandung Angie maupun anak-anak dari Reza Artamevia, mantan istri Adjie--masih kecil dan membutuhkan perhatian Angie. Selain itu, Angie mengatakan pula, masih banyak perjuangan almarhum yang harus dilanjutkannya.

Angie mengaku, putranya, Keanu Jabbar Massaid, menjadi penyemangatnya. Aku Angie pula, ketika menghadapi kesedihan dan kesepian, ia memiliki satu kegiatan untuk mengatasinya. "Saya nulis, bikin buku Mas Adjie. Dari dulu dia pengin nulis, tapi karena waktu saya terbatas karena kuliah, jadi belum digodok. Dalam 40 hari saya akan konsentrasi untuk menyelesaikannya. Meski berat, itu jadi semangat buat saya," ujarnya.

Puteri Indonesia 2001 ini juga mengingat istri almarhum Sophan Sophian, Widyawati, yang turut menguatkan dirinya. Pengalaman Widyawati juga menyemangatinya untuk tidak larut dalam kesedihan dan mencurahkan perhatian untuk anak-anak.

Andra and the Backbone Atur Hubungan Bagai Pacaran

Dedy Lisan, vokalis Andra and the Backbone, dalam konser band itu di Palembang, Sumatera Selatan, 4 April 2010.

CIREBON, KOMPAS.com -- Menginjak tahun keempat meramaikan industri musik Indonesia, band Andra and The Backbone hingga saat ini tetap solid, selain terus berkarya. Menurut Andra Ramadhan (gitar), menekan ego pribadi merupakan kunci keberhasilannya melanggengkan Andra and The Backbone bersama Stevie Item (gitar) dan Dedy Lisan (vokal).

"Kami enggak ada kiat khusus jaga kesolidan, karena kami bukan ABG (anak baru gede) lagi. Setiap orang punya ego, tapi setiap orang punya kesadaran diri, dan tidak setiap ego harus dikeluarkan," jelas Andra dalam wawancara di Hotel Santika, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (19/2/2011).

Stevie tak menampik bahwa kondisi Andra and The Backbone juga naik dan turun. Namun, mereka selalu sigap menghadapi kondisi tak nyaman. "Pandai-pandai saja menyiasatinya," ujarnya. "Ya, seperti orang pacaran saja ngatur hubungannya," tekan Andra. "Ini hal yang kami suka dan ini tempat kami juga cari makan. Jadi, ya dijaga saja lah," sahut Dedy.

Monday, February 21, 2011

Andra and the Backbone Tak Muat Pakai Celana The Changcuters

Dedy Lisan, vokalis Andra and the Backbone, dalam konser band itu di Palembang, Sumatera Selatan, 4 April 2010.

CIREBON, KOMPAS.com -- Untuk merebut hati Backboners alias para penggemar Andra and the Backbone, para personel band itu--Dedy Lisan (vokal), Andra Ramadhan (gitar), dan Stevie Item (gitar)--tak memerlukan kostum khusus untuk mendukung penampilan panggung mereka. "Straight forward, kalau gue bilang, Andra and the Backbone seperti yang orang bisa lihat," kata Dedy dalam wawancara di Hotel Santika Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (19/2/2011). 

Dedy, seperti juga rekan-rekannya memilih busana kasual untuk beraksi di pentas. Mereka juga tak berkostum seragam. "Kami enggak mungkin seperti The Changcuters. Pakai celananya saja saya enggak muat," ujar Dedy berbumbu canda. "Makanya kami tidak punya kostum khusus. Baju juga enggak ada aturan khusus untuk janjian pakai kuning, misalnya," lanjutnya, masih dengan canda.

Ia pun memilih aksi kalem di pentas. "Ada keinginan, kalau nyanyi kayaknya seru juga pakai gaya (lincah) itu. Tapi, di Backbone itu bukan musik yang ada pumpin'-nya, jadi enggak mungkin saya nyanyiin lagu Backbone, tapi gayanya patah-patah," ujarnya lagi.

Dedy, sekaligus mewakili Andra dan Stevie, mengatakan pula bahwa mereka memikat para penonton bukan dengan dandanan, melainkan dengan aransemen musik dan vokal serta interaksi dengan para penonton. "Kami berusaha akalin lewat aransemen, biar penonton itu emosinya naik turun. Jadi, aksi panggung yang sering kami pakai itu gimana berinteraksi dengan penonton," tuturnya.

Setidaknya 10 Film Asing Masih Diputar di Jakarta

JAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah film asing masih diputar di jaringan Bioskop 21 dan Cinema XXI, Minggu (20/19/2011). Setidaknya 10 film asing masih beredar di jaringan tempat pemutaran film tersebut di wilayah Jakarta. Situs resmi jaringan itu, 21cineplex.com, menginformasikan hal tersebut.

Kesepuluh film asing itu adalah The King's Speech, The Fighter, 22 Bullets, No String's Attached, The Green Hornet (termasuk yang 3D), The Mechanis, Shaolin, The Hole, Altitude, dan Centurion.

Namun, pada daftar film yang akan diputar dalam waktu dekat (coming soon) di Jakarta, tak ada lagi film asing.

Kepada Kompas.com, Jumat (18/2/2011), juru bicara 21 Cineplex yang juga Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia, Noorca Marendra Massardi, mengatakan bahwa semua film asing yang berada di Tanah Air telah diturunkan dari penayangan di semua gedung bioskop 21 Cineplex, yang terdiri dari Bioskop 21 dan Cinema XXI, serta jaringan lainnya, yaitu Blitz Megaplex, mulai Jumat lalu.

Menurut Noorca, Motion Picture Association (MPA), yang merupakan asosiasi sejumlah perusahaan film asing, resmi menarik semua film asing yang beredar di gedung-gedung bioskop di Indonesia. Mereka juga menarik film-film asing yang akan beredar. Tindakan itu merupakan dampak dari keputusan pemerintah melalui Dirjen Pajak serta Bea dan Cukai yang menetapkan pemberlakuan bea masuk hak edar distribusi.

Andra and the Backbone Dampingi Para Perupa di Cirebon

CIREBON, KOMPAS.com -- Baru pertama manggung di Cirebon, Jawa Barat, Andra and the Backbone (ABB) harus tampil dalam konser dengan konsep yang mengharuskan mereka tidak menyajikan lagu-lagu saja, tapi sekaligus mendampingi  proses berkarya sejumlah perupa yang menerjemahkan lagu-lagu ABB ke dalam karya seni rupa.      

Nusa Konser, nama konser yang diturkan di Jawa Barat itu, diklaim oleh ABB sebagai konser pertama mereka di Cirebon. Masih "buta" mengenai selera dan apresiasi pendengar musik di kota tersebut, termasuk para penggemar mereka alias Backboners, sebelum manggung pada Sabtu (19/2/2011) malam Andra Ramadhan (gitar), Stevie Item (gitar), dan Dedy Lisan (vokal)  mengungkapkan rasa penasaran mereka.

Mereka melihat, bukan mereka yang akan memberi kejutan kepada para penonton, melainkan mereka yang akan mendapat kejutan dari para penonton. "Justru ini surprise buat kami, karena dari album pertama sampai ketiga kami baru pertama kali ke sini," kata Andra. "Kepenginnya seperti di kota-kota lain, kami diapresiasi dengan baik," timpal Dedy.

Untuk itu, ABB, yang menyajikan belasan lagu dalam konser tersebut, berlatih intensif dalam satu jadwal latihan saja. Apalagi, konsep konser itu berbeda dengan konser-konser mereka sebelumnya. "Kami sudah latihan, karena ini konser yang pertama kali buat kami dengan konsep yang menggabungkan seni lukis dengan musik, yang ada performing art-nya," jelas Andra.

Di pentas, ABB harus menyesuaikan durasi lagu-lagu yang mereka mainkan dengan durasi proses berkarya para perupa lulusan Fakultas Seni Rupa dan Design ITB yang menerjemahkan lagu-lagu mereka ke dalam karya seni rupa.

Deddy Mizwar: Bioskop Itu Didikte oleh AS

JAKARTA, KOMPAS.com - Aktor, sutradara dan produser Deddy Mizwar mengatakan situasi heboh seputar pajak film impor adalah berawal dari beredarnya surat Dirjen Pajak tanggal 10 Januari 2011.

Ia menuturkan isi surat hanya menegaskan agar importir bayar pajak yang benar dan wajar sesuai undang-undang pajak yang berlaku. "Saya jadi bingung dengan MPA (Motion Picture Association), kalau enggak mau masukin film kenapa jadi heboh. Padahal mereka tidak mau bayar pajak secara benar dan wajar," ujarnya dalam jumpa pers terkait kebijakan film nasional dan masalah pajak/bea film impor di Gedung Sapta Pesona, Kemenbudpar, Jakarta, Minggu (20/2/2011).

Karena itu, lanjutnya, surat edaran bukan berisi kenaikan pajak. Deddy mengatakan pernyataan MPA menyesatkan. "Ada yang mengadu domba antara masyarakat dan pemerintah. Negara ini ditekan oleh pedagang-pedagang barat," katanya. Dalam kesempatan tersebut hadir pula aktor dan sutradara senior Slamet Raharjo.   

Ia menuturkan pihak-pihak tersebut mencak-mencak dan mengancam tidak akan memasukkan film impor ke Indonesia. "Seolah kita bangsa tempe, tidak berani dengan bangsa barat. Bioskop itu didikte oleh AS (Amerika Serikat)," tuturnya.

Ia menyayangkan bahwa malah orang Indonesia sendiri yang meributkan hal tersebut. Deddy pun berujar akan siap menghadapi orang-orang tersebut.

"Bung Noorca (Massardi, jubir 21 Cineplex) keliru memberi informasi. Jangan sampai jadi pengkhianat bangsa," ujar Deddy.

Selain itu, Deddy juga mengatakan ada sistem perpajakan yang tidak adil yang diberlakukan untuk film Indonesia. Karena film nasional dikenakan pajak yang jauh lebih tinggi dibanding pajak film impor.

"Film impor itu pajaknya cuma Rp 2 juta untuk satu kopi. Sementara film nasional misalnya dengan biaya produksi Rp 5 miliar justru kena pajak bisa Rp 500 juta," tutur Deddy.

Jika satu film impor membuat 25 kopi, maka film impor tersebut hanya terkena pajak sekitar Rp 50 juta saja. Angka ini sangat jauh lebih murah dibanding kebijakan film impor di Thailand. Di Thailand, film impor dikenakan pajak 30 juta per kopi.

Dedy "Andra and the Backbone": Begadang Jangan Begadang

TRIBUN PEKANBARU/MELVINAS PRIANANDAAndra and the Backbone ambil bagian dalam sebuah konser di Pekanbaru, 13 Juni 2010.

CIREBON, KOMPAS.com -- Agar tampil prima ketika manggung, seperti dalam konser Nusa Konser, yang digelar di enam kota provinsi Jawa Barat (Jabar), vokalis Andra and the Backbone, Dedy Lisan, mengaku memiliki siasat khusus.

Dedy, yang pernah menjadi wartawan sebuah majalah remaja pria, menilai, kegiatannya sebagai penyanyi tak kalah melelahkan dari pekerjaannya sebagai wartawan. "Dulu, awal-awal gabung di Backbone, dengan jadwal yang padat memang agak kewalahan," cerita Dedy di Cirebon, Sabtu (19/2/2011).

Namun, kemudian, ia bisa mengatasinya. "Kayak wartawan saja, kalau dikasih deadline biasanya akan panik kalau awal-awal. Tapi, kalau sudah biasa, juga enggak akan panik. Menyanyi juga seperti itu," ujar Dedy, yang menjadi vokalis Andra and the Backbone sejak lahirnya band tersebut pada 2007.

Agar staminanya tak mengendur, Dedy mengaku telah meninggalkan kebiasaan begadang. "Siasatnya, saya tidak lagi begadang, kecuali kalau rekaman dan (menonton tayangan pertandingan sepak bola) Liga Champions. Intinya, jaga stamina saja," tuturnya.

Aturan Perfilman Harus Lebih Sehat

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah akan mencari jalan keluar sebagai respons keberatan importir film atas ketentuan perpajakan yang mengakibatkan asosiasi produsen film Amerika Serikat menyatakan tak akan lagi mengedarkan film Hollywood ke Indonesia. Pemerintah juga perlu meninjau ulang perpajakan film untuk menjadikan industri ini lebih sehat dan kompetitif.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro dan Deputi Bidang Koordinasi Perdagangan dan Industri Kementerian Perekonomian Edy Putra Irawady menyampaikan hal itu secara terpisah di Jakarta, Sabtu (19/2/2011).

Sebelumnya, Wakil Presiden Motion Pictures Associatian (MPA) untuk Asia Pasifik, Frank S Rittman, Kamis lalu, menyatakan bahwa asosiasi produsen film besar dari AS ini memutuskan untuk tidak mendistribusikan film di Indonesia selama pemerintah tetap memberlakukan ketentuan perpajakan yang baru terkait pengenaan royalti film impor.

Pada 10 Januari 2011, pemerintah menerbitkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-3/PJ/2011 tentang Pajak Penghasilan (PPh) atas Penghasilan Berupa Royalti dan Perlakuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas Pemasukan Film Impor. Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyebutkan hal ini sebagai bagian dari reformasi perpajakan dalam industri perfilman di Indonesia.

Surat edaran ini menyebutkan, penghasilan yang dibayarkan ke luar negeri oleh importir terkait penggunaan hak cipta atas film impor dengan persyaratan tertentu merupakan royalti yang dikenai PPh 20 persen. Pengenaan pajak royalti untuk film impor merupakan hal baru, sedangkan royalti film nasional sudah lebih dulu dikenai pajak.

Pajak royalti untuk film nasional ini diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-33/PJ/2009 tentang Perlakuan Pajak Penghasilan atas Penghasilan Berupa Royalti dari Hasil Karya Sinematografi.

Selain mengatur ketentuan pajak royalti film impor, Surat Edaran Dirjen Pajak yang diterbitkan Januari lalu juga mengubah perhitungan PPN yang selama ini dikenakan pada film impor.

Sebelumnya, film impor dikenai bea masuk, PPN, dan PPh hanya berdasarkan panjang film, tanpa memperhitungkan jenis dan harga film.

”Kami kenakan sekitar 0,43 dollar AS per meter sebagai dasar pengenaan untuk bea masuk dan juga pengenaan PPN dan PPh,” ujar Direktur Peraturan Perpajakan I Ditjen Pajak Suryo Utomo saat mengumumkan penerbitan Surat Edaran Dirjen Pajak ini, Januari lalu.

Tidak kompetitif

Terbebasnya film impor dari pajak royalti selama ini serta rendahnya pengenaan tarif bea masuk, PPN, dan PPh untuk film impor dinilai turut mengakibatkan industri film nasional tidak kompetitif bersaing dengan film impor di negeri sendiri.

”Sebagai sebuah karya atau barang jadi, film yang masuk ke Indonesia memiliki dua aspek perpajakan, yaitu sebagai barang impor dan adanya pembayaran royalti atau pemanfaatan hak atas film tersebut oleh pihak yang diizinkan untuk mengedarkan,” ujar Suryo Utomo.

Pengenaan tarif dengan dasar perhitungan nilai yang tetap, yakni 0,43 dollar AS per meter film, dirasa merugikan karena harga sebuah film yang diimpor bisa jauh lebih mahal dari itu. Oleh karena itu, pengaturan kembali dinilai penting.

Secara terpisah, Edy Putra Irawady menegaskan, kenaikan tarif perpajakan atas film impor sebagai barang jadi sebenarnya merupakan hal wajar. Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO mengizinkan negara anggotanya, termasuk Indonesia, untuk melindungi industri dalam negerinya dengan menerapkan bea masuk pada barang jadi yang masuk ke pasar domestiknya.

”Saya pikir itu wajar kalau ada tarif bea masuk untuk barang jadi (film impor). Sebab, sudah menjadi hak kita di WTO untuk menerapkan tarif bea masuk, bahkan hingga 40 persen,” katanya.

Meski demikian, Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro menegaskan, pemerintah masih akan membahas ketentuan perpajakan ini dengan pihak importir film. Dengan begitu, Pemerintah Indonesia, masyarakat penonton film di Indonesia, ataupun para importir film sama-sama tidak menjadi pihak yang dirugikan. ”Pemerintah dan importir sedang mencari win-win solution atas ketentuan itu,” ujarnya.

Bioskop terancam

Terkait keputusan MPA, bioskop di seluruh Indonesia sejak 17 Februari lalu tidak bisa lagi memutar film-film Hollywood milik sejumlah produsen besar anggota MPA. Hal ini meresahkan pengusaha bioskop dan penonton film di Indonesia.

Pendiri dan konseptor Blitzmegaplex, Ananda Siregar, mengatakan, jumlah film Hollywood yang diputar Blitz selama ini sekitar 80 hingga 90 judul per tahun atau sekitar dua pertiga dari semua judul film yang diputar Blitz. Selebihnya, jaringan bioskop ini memutar film nasional dan film asing non-Hollywood. ”Jadi, dampaknya sangat negatif. Kalau berkelanjutan itu menyusahkan,” ujar Ananda.

Dijelaskan Ananda, distributor film asing non-Hollywood sebenarnya bisa mengisi kekosongan film Hollywood di bioskop-bioskop Indonesia. Namun, ia khawatir distributor film asing lainnya juga akan berkeberatan karena ketentuan bea masuk ini berlaku bagi semua film impor.

Film nasional juga bisa didorong untuk mengisi layar Blitz. Namun, langkah itu tidak bisa dalam jangka pendek. ”Produksi film lokal memang bisa digenjot, tetapi prosesnya kan makan waktu. Kalau pasokan saat ini belum mencukupi,” ujarnya.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia Djohny Sjafruddin berpendapat, kebijakan pemerintah ini justru bisa mengancam industri perfilman nasional. ”Secara umum, industri ini terdiri dari sektor hulu dan hilir. Yang akan hancur adalah hilirnya, yakni bioskop, karena sebagian besar bioskop memutar film asing, terutama dari AS,” ujarnya.

Berdasarkan data Lembaga Sensor Film, pada tahun 2010 terdapat 180 film impor dan 81 film nasional yang diputar di bioskop-bioskop Tanah Air. ”Film nasional belum secara permanen bisa menunjang bioskop. Jadi, kalau pasokan film Barat tidak ada, industri bioskop akan hancur duluan,” ujar Djohny.

Kekurangan pasokan ini tercermin di situs web 21cineplex misalnya. Agenda film yang akan tayang hingga Sabtu kemarin hanya diisi dengan empat film nasional: Tebus, Pocong Ngesot, Rumah Tanpa Jendela, dan Cewek Saweran. (DAY/OIN/BSW)

Menbudpar: Tak "Fair" Pajak Film Impor Jauh Lebih Kecil

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan pihaknya masih terus mengevaluasi perihal pajak dan bea film impor. Kebijakan mengenai film impor masih dalam tahap pembahasan, jadi belum ada keputusan final maupun peningkatan pajak dan bea film impor.

Keputusan final yang melibatkan berbagai instansi pemerintah yaitu Kemenbudpar, Kementrian Keuangan, dan Kementerian Perekonomian baru ada di bulan Maret 2011.

"Kita terus menggodok hal ini. Kita maunya film Indonesia terlindungi. Film impor terus berjalan. Bioskop makin tumbuh," ucapnya pada jumpa pers terkait kebijakan perfilman nasional dan masalah pajak film impor di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Minggu (20/2/2011).

Ia menyebutkan selama ini pajak dan bea yang dibayarkan film impor lebih kecil daripada yang harus dikeluarkan untuk sebuah produksi film nasional. Karena itu, pihaknya dan Kementerian Keuangan merumuskan keringanan pajak dan bea untuk film nasional. Ia menambahkan kalau perlu film nasional tidak dikenakan PPN.

"Sebagai perbandingan, film impor itu kena pajak Rp 50 juta untuk satu film. Tapi film nasional yang biaya produksinya Rp 5 miliar, kena pajak Rp 500 juta. Ini enggak fair, masa untuk bangsa sendiri enggak fair," jelasnya.

Ia menuturkan tujuannya adalah jangan memberatkan insan film dalam negeri. Jero juga menyebutkan pemerintah tidak ingin mematikan film impor tapi perlu ada penataan ulang.

Ia pun mengatakan kebijakan film dan pajak adalah hak Indonesia sepenuhnya. "Kita bebas mengaturnya tanpa harus tunduk pada tekanan-tekanan pihak asing," ucapnya.

Sehubungan dengan surat edaran Dirjen Pajak tanggal 10 Januari 2011, Jero mengatakan bahwa dalam surat tidak menyebutkan kenaikan pajak impor, namun menegaskan agar importir membayar pajak yang benar dan wajar sesuai peraturan pajak yang berlaku.

Saat ditanyakan mengenai film impor akan berhenti masuk, Jero menjawab bahwa pasar Indonesia begitu besar jadi tidak mungkin dilepas. Pemerintah berencana sesuai UU No. 33 tahun 2009 bahwa bioskop memutar film nasional sebesar 60 persen.

Perbandingan film nasional dan film impor di tahun 2009, film nasional 78 judul sementara film impor 204 judul. Sedangkan di tahun 2010, film nasional hanya 77 judul, sangat jauh angkanya dengan film impor sebanyak 192 judul.

Jero berharap dengan kebijakan keringanan pajak untuk film nasional, maka film dalam negeri bisa bergairah dan terpacu membuat film lebih dari 200 judul. 

Sunday, February 20, 2011

Ferry Ardiansyah: Kebijakan Itu Mematikan Bioskop

CIREBON, KOMPAS.com - Buntut dari aksi penarikan film asing dari bioskop 21, XXI, atau pun Blitz Megaplex yang dipicu oleh  keputusan pemerintah melalui Dirjen Pajak dan Bea Cukai yang menetapkan pemberlakuan bea masuk hak edar distribusi dinilai aktor peran sekaligus vokalis Ferry Ardiansyah hanya akan mematikan usaha perfilman.

"Kalau itu dihilangkan bukanlah solusi. Alasannya karena, satu bisa mematikan jasa 21. Kedua, masyarakat akan buta tentang updatenya movie dunia yang box office. Jadi ketinggalan gitu," imbuh Ferry usai manggung di Nusa Konser, Lapangan Pemuda, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (19/2/2011).

Seperti kebanyakan opini publik lainnya, Ferry menyayangkan penarikan sejumlah judul film asing dari bioskop. "Kenapa film luar itu yang menjadi sasaran? Saya as an actor berbicara dari karya mereka menjadi panutan sineas kita, para aktor dan aktris kita. Jadi saya sangat menyayangkan," tekannya.

Sejauh ini, Ferry menilai alasan penarikan film karena kenaikan pajak tak masuk akal. "Alasan bea cukai itu enggak masuk akal, kalau mau diberantas itu bukan film luar negerinya, tetapi pembajakannya karena bagi saya itu enggak masuk akal walaupun sudah ada keterangan dari pihak 21 mereka terancam," tandas Ferry.

Sementara itu, secara tak langsung sineas maupun artis peran Indonesia akan menerima imbasnya. "Terus terang gua enggak akan kenal Adam Sandler kalau enggak nonton filmnya, dan gua enggak bisa memerankan salah satu peran yang dikasih sutradara karena itu (film Hollywood) adalah salah satu inspirasi gua juga, mungkin buat sineas yang lainnya," kata Ferry. "Yang pasti gua melihatnya miris ya, karena Indonesia itu kelihatannya malah makin mundur," pendapatnya.

Tantowi: Ini Peluang dan Tantangan

Ketua Yayasan Anugerah Musik Indonesia, Tantowi Yahya didaulat membacakan nominasi lifetime achivement pada ajang penghargaan bagi insan musik Indonesia, AMI AWARDS ke 13 yang mengambil tema eksistensi musik Indonesia di JITEC Mangga Dua Square, Jakarta, Rabu (9/6/2010) malam.

JAKARTA, KOMPAS.com — Dengan ditariknya film-film Hollywood dari bioskop-bioskop di Indonesia, menurut anggota Komisi I dari Fraksi Partai Golkar, Tantowi Yahya, ini menjadi satu peluang besar bagi industri film nasional.

Kepada Tribunnews.com di Jakarta, Sabtu (19/2/2011), Tantowi melihat ini waktunya perfilman nasional memanfaatkannya dengan tetap mengutamakan kualitas untuk merebut hati penonton.

"Peluang besar bagi film nasional untuk memenuhi teater-teater yang selama ini didominasi film-film Hollywood," ujarnya.

Selain melihat hal ini sebagai peluang besar, dia juga menilai bahwa ini sekaligus tantangan bagi pegiat film nasional agar lebih produktif. Unsur kreativitas jangan sampai lekang saat menggarap industri perfilman nasional.

"Ini sekaligus menjadi tantangan bagi pegiat film kita untuk lebih produktif tanpa meninggalkan kreativitas," ujar Tantowi. (Tribunnews/Srihandriatmo Malau)

Bimbim "Slank": Di AS, CD Lagu Slank Pun Kena Pajak

JAKARTA, KOMPAS.com — Penggebuk drum grup band Slank, Bimbim, mengaku setuju dengan rencana pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak menetapkan pajak hak edar distribusi film impor di Indonesia. Menurut dia, pemberlakuan pajak juga dilakukan oleh pihak Amerika Serikat.

"Kalau menurut saya, sih, enggak apa-apa karena Slank pernah punya pengalaman yang sama saat masuk Amerika Serikat. Di sana dikenai berbagai bentuk pajak, seperti harus punya visa kerja, ekspor merchandise, sampai CD lagu Slank pun dipajakin, dan sebenarnya kita juga harus begitu," kata Bimbim saat ditemui di Studio RCTI di Kebon Jeruk, Jakarta, Senin (21/2/2011).

Disinggung soal hilangnya film asing menyusul penarikan yang dilakukan pihak Motion Picture Association of America, perwakilan dari sejumlah perusahan film Hollywood, Bimbim menilai seharusnya ini menjadi tantangan bagi para produser film di Tanah Air. 

"Film di Indonesia, kan, banyak film hantu. Enggak asyik juga, sih. Dengan adanya kejadian ini setidaknya menjadi kesempatan bagi film bergenre lain bisa masuk karena alternatif lain enggak ada," ujar Bimbim. (Imam Suryanto)

Stevie Item Sering Kelilipan Rambut Sendiri

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOAndra and the Backbone: Dedy Lisan (kiri), Stevie Item, dan Andra Ramadhan (kanan)

JAKARTA, KOMPAS.com -- Sering terlihat rambut gondrong Stevie Item, gitaris band Andra and the Backbone menutupi wajahnya di pentas. Tapi, ternyata, itu bukan bagian dari gaya panggungnya. Jadi?

"Itu bukan gaya, tapi karena ketutupan. Kalau orang bilang itu aksi panggung sebetulnya enggak. Itu cuma ketutupan, jadi sering kelilipan juga," jelas pemilik rambut hitam lurus ini ketika berbincang dengan Kompas.com di Hotel Santika Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (19/2/2011).

Berambut panjang, menurut Stevie, sudah cukup untuk mendukung aksinya di pentas tanpa gimmick lagi yang berlebihan. "Kalau mau muter-muterin gitar (guitar spinning) ya gimana, enggak pantas juga lagunya. Dan, saya paling cinta gitar, enggak mungkin patahin gitar atau banting gitar," ujarnya.

Tolak "Arwah Goyang Karawang" Masuk Bandung

Ia menilai film yang dibintangi oleh Dewi Perssik dan Julia Perez sangat menyesatkan dan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah seni yang sesungguhnya.

Oleh karena itu, dirinya sangat memahami protes keberatan masyarakat Karawang terhadap film tersebut.

Untuk menghentikan film ini, Bucky menyarankan masyarakat Karawang memprotes film dengan melaporkannya ke polisi. Jika sudah dalam penanganan proses hukum, tentu film itu tidak bisa beredar di masyarakat.

"Laporkan saja ke polisi. Kalau ada yang nekat menayangkan, tentu dia akan kena pasal menyebarluaskan. Proses hukum saja pihak-pihak pembuat film AGK," katanya.

Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Jabar Bidang Politik dan Hukum Dede Mariana, mengatakan, surat keberatan Pemerintah Provinsi Jawa Barat Karawang kepada Lembaga Sensor Film (LSF) terkait materi maupun peredaran film Arwah Goyang Karawang akan dilayangkan pada Selasa atau Rabu depan.

Dede Mariana mengemukakan sudah merampungkan rancangan surat tersebut dan segera disampaikan kepada Gubernur Jawa Barat untuk ditandatangani.

"Pastinya surat itu akan dibaca dan dikaji terlebih dahulu oleh Gubernur dan jajarannya dan kemudian ditandatangani. Setelah itu surat baru disampaikan kepada LSF," ujar Dede.

Eric Clapton, Narasi Tanpa Basa Basi

Bre Redana

Apa yang paling diperbincangkan sebagian orang seusai menonton penampilan Eric Clapton di Indoor Stadium, Singapura, Senin, 14 Februari, lalu? Selain menyanyi, tak ada kata-kata keluar dari mulutnya kecuali ”thank you”.

Malam itu bertepatan dengan yang disebut para remaja Valentine’s Day, Clapton tampil di stadion yang terisi penuh oleh sekitar 10.000 penonton—tiket habis jauh hari sebelum pertunjukan. Pada saat pertunjukan Clapton, terlihat generasi apa yang memenuhi stadion. Para penonton sebagian besar rambutnya telah memutih. Mereka kebanyakan para ekspatriat, termasuk para penonton dari negeri tetangga Singapura, seperti Indonesia dan Malaysia.

Clapton (kini 65 tahun) muncul di panggung mengenakan celana jins belel, baju lengan pendek berbahan katun. Sangat sederhana, bahkan hari itu dia kelihatannya lupa mencukur jambang. Di belakangnya ada empat pemusik dan dua perempuan backing vocal: semuanya benar-benar sekadar ”backing” bagi sang empu blues-rock ini.

Tanpa berucap ba atau bu, dia memetik gitarnya membuka pertunjukan dengan blues klasik ”Key to the Highway”, disusul ”Goin’ Down Slow”. Setelah itu, nomor standar dari Muddy Waters, ”Hoochie Coochie Man”.

Para penonton yang rambutnya telah memutih, termasuk yang jauh-jauh datang ke Singapura, tak peduli dengan tampilan panggung yang sederhana, termasuk tidak perlunya basa-basi dari Clapton.

Cantiknya kamu

Melihat Clapton, tinggi semampai di tengah panggung, tanpa kekenesan apa pun, termasuk dalam teknik petikan gitarnya, seperti melihat sebuah monumen sejarah. Di situ perjalanan sebuah generasi terungkap, termasuk riwayat asmara Clapton, yang sebagian menjadi inspirasi lagu-lagunya. Di balik gitar Fender Stratocaster warna hijau telur asinnya, kami seolah membaca segalanya. Ketika gitar itu melantunkan ”Little Queen of Spades” dan ”Crossroads”, kami tahu, itu lagu dari salah satu idolanya, gitaris blues tahun 1930-an, Robert Johnson.

Setelah beberapa lagu, Clapton duduk. Para roadies mengganti gitar Clapton, dengan gitar akustik warna coklat. Bisa ditebak, lagu apa yang akan keluar dengan akustik ini. Itulah dia, ”Layla”.

Mendengar Clapton membawakan ”Layla”, terbayang roman yang dijalaninya, dengan perempuan bernama Patty Boyd, yang telah menjadi inspirasi setidaknya dua pemusik besar, George Harrison dan Eric Clapton sendiri.

Bagi yang tidak terlalu akrab dengan kesablengan generasi tahun 1960-an yang penuh pergolakan, Boyd pernah menikah dengan Harrison, sebelum kemudian menikah dengan Clapton. Pada Harrison, Boyd memberi inspirasi lagu Beatles, ”Something” dan ”I Need You”. Ingat? Pada Clapton, salah satunya adalah ”Layla”, yang menjadi hit pada tiga dekade.

Konon, selain jatuh cinta kepada Patty Boyd, Clapton menjalin hubungan dengan adik perempuan Patty bernama Paula. Paula meninggalkan Clapton setelah mendengar ”Layla”. Menurut berbagai tulisan, di situ Paula sadar bahwa lagu itu bukan ditujukan kepada dirinya, melainkan kepada Patty. Ia hanya dimanfaatkan sebagai pengganti Patty. Kasihan ya....

Lihat saja sebagian liriknya. ”I tried to give you consolation/When your old man had let you down/Like a fool, I fell in love with you/Turned my whole world upside down”. (Aku coba memberimu penghiburan/Saat lelakimu terdahulu membuat kamu bersedih/Seperti si pandir, aku jatuh cinta kepadamu/Seluruh duniaku menjadi terbalik).

Setelah ”Layla”, ada sebuah lagu lagi yang liriknya amat naratif, menceritakan pengalaman suatu petang, bersama perempuan yang sangat kita cintai. Bayangkanlah, dengan perempuan yang Anda sangat termehek-mehek kagum, ada acara ke sebuah pesta malam itu. Anda menemani dia memilih-milih gaun mana yang hendak dikenakan, ber-make up, dan kemudian menyikat rambutnya yang indah panjang. Kemudian si cantik yang membuat jantung Anda deg-degan itu bertanya: adakah aku sudah terlihat cantik?

Baru intronya saja, seisi stadion sudah histeris. Dengan gitar Fender-nya, Clapton membawakan lagu yang menyentuh siapa saja yang mengenal arti cinta: ”Wonderful Tonight”.

Pesta usai, begitu narasi lagu itu kemudian. ”It’s time to go home now and I’ve got an aching head/So I give her the car keys and she helps me to bed/And then I tell her, as I turned out the light/I say My darling, you were wonderful tonight...” (Saatnya pulang, dan aku merasa kepala agak pusing/Aku kasih kunci mobil kepadanya, dan dia membantuku ke tempat tidur/Aku pun berkata kepadanya sembari mematikan lampu/Say, kamu sangat cantik malam ini...).

Adakah kita butuh basa-basi di luar musik dan lagu itu? Tidak. Kami tetap di tempat ketika Clapton meninggalkan panggung. Ia muncul lagi, memberikan satu encore, lagu menggemuruh ”Further on up the Road”.

Setelah itu, pertunjukan benar-benar usai. Kami terlempar di jalan lagi, berdesak-desakan di dalam kereta bawah tanah.

Friday, February 18, 2011

Wah... Ada Special Oldskul vs Nusul di Blowfish!

JAKARTA, KOMPAS.com - Nanti malam (18/2) Blowfish (City Plaza at WISMA MULIA, Jl Jend Gatot Subroto Kav 42) akan gelar acara clubbing bertema Special Oldskul vs Nusul pukul 22.00 WIB.

Berikut para pendukung acara yang akan tampil nanti malam:

DJ Justeen - Resident DJ DJ STAN (Trigger) DJ SLIQQ (SOUL MENACE) DJ TWIST (D'MAKAVELI) MC DRWE (1945mf) VJ Mutter

RSVP:

0857 10 80 0001 227AB073

See you there, clubbers...! :)

************

"Punya acara clubbing, konser, atau pemutaran film? Silakan kirim email serta gambarnya ke : jakartatonite@kompas.com"

Jadi Anggota DPR, Gita 'KDI' Tetap Manggung

JAKARTA, KOMPAS.com -- Gitalis Dwinatarina (25), yang populer sebagai Gita KDI, mengikuti rapat kerja pertamanya di Gedung DPR, Kamis (17/2/2011). Gita resmi menjadi anggota DPR sejak 2 Februari 2011.

Dalam rapat kerja dengan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Gita langsung melancarkan pertanyaan tentang isu susu formula yang mengandung bakteri Enterobacter sakazakii. Dia tidak mau ketinggalan dengan anggota Komisi IX DPR lainnya.

”Rasanya masih seperti mimpi. Ini dunia baru bagi saya. Menjadi pengurus Partai Kebangkitan Bangsa di Jawa Barat memang sudah lama, tetapi tidak terlalu aktif. Selain itu juga sibuk karena dikontrak stasiun televisi,” kata pemenang Kontes Dangdut Indonesia (KDI) 2005 itu.

Meski menjadi anggota DPR, Gita tidak akan meninggalkan dunia menyanyi. ”Kalau ada waktu senggang, pasti akan menyanyi,” katanya.

”Menyanyi merupakan hobi buat saya, bukan kebutuhan pokok. Tidak bisa dimungkiri, kalau tidak menyanyi, tidak afdol rasanya. Ketika kampanye pemilu lalu, saya sudah berusaha hanya ngomong, tetapi peserta kampanye pasti meminta saya menyanyi,” ceritanya.

Gita mengungkapkan, menyanyi bisa dijadikan salah satu jurus jitu memelihara konstituen. ”Dengan menyanyi, bisa menjadi jurus mendekati masyarakat,” ujarnya. (SIE)

KD Menikah Tepat Pada Ulang Tahun ke-36?

JAKARTA, KOMPAS.com — Krisdayanti (KD) sudah menerangkan kepada para peliput bahwa ia akan menghadiahi pengusaha Dili, Timor Leste, Raul Lemos, calon suaminya, kado pernikahan berupa klip video sebuah lagu barunya dan akan mempertontonkan klip video itu pada Maret 2011. Tapi, ia tak mengiyakan atau membantah ketika ditanya apakah akan menikah tepat pada ulang tahunnya yang ke-36, 24 Maret 2011.

"Enggak tahu ya, tunggu saja," jawab KD berahasia soal waktu pernikahannya kelak.

Ia cuma mengaku akan menikah di Jakarta. "Ya, di Jakarta saja dan enggak akan merepotkan kalian semua (kalau harus ke Dili)," ucapnya.

Mantan istri artis musik Anang Hermansyah itu juga tidak mau menyebut sudah sejauh mana—sudah berapa persen—ia dan Raul menyelesaikan persiapan pernikahan mereka. Adik kandung vokalis Yuni Shara itu mengaku hanya memiliki kekuatan cinta untuk memuluskan langkahnya melepas masa menjandanya. "Kami enggak ngomongin persentase karena punya kekuatan cinta yang bisa mempersiapkan pernikahan kami," kata KD ketika ditemui di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (17/2/2011).

Ibu dua anak tersebut mengaku takut rencananya berantakan kalau bicara soal persentase persiapan pernikahannya. "Tidak mau dipersentasekan karena kami ya cuma bisa berharap dan berdoa. Kalau kami sudah mempersentasekan 100 persen, tetapi sebenarnya tidak, nanti kecewa kan," ujarnya. "Direncanakan sebaik mungkin pokoknya. Kami manusia cuma bisa berharap dan berdoa," harapnya.

Iron Maiden, Obat Mujarab Nostalgia Metal

Bruce Dickinson (atas), Steve Harris, Dave Murray, Adrian Smith, Janick Gers, dan Nicko McBrainke (tak terlihat), personil band heavy metal legendaris Iron Maiden, menggelar konser The Final Frontier World Tour 2011, di Pantai Carnaval Ancol, Jakarta, Kamis (17/2/2011).

JAKARTA, KOMPAS.com — Nyata benar bahwa kedatangan Iron Maiden dalam konser "The Final Frontier World Tour 2011" di Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta, Kamis (17/2/2011), banyak dijadikan momentum bernostalgia oleh para penggemarnya di Indonesia. Beberapa penonton yang hadir malam tadi mengungkapkan, nomor-nomor klasik Iron Maiden justru "mengena" di hati mereka setelah puluhan tahun dirindukan untuk bisa berkonser di Indonesia.

John Deacon, misalnya, datang mengenakan kaus hitam bergambar Iron Maiden. Ia mengaku "kapalan" untuk urusan Iron Maiden dan selalu mengejar ke mana pun band heavy metal asal Inggris itu berkonser di luar negeri.

"Konser mereka di Rusia dan Singapura kemarin juga saya nonton dan untungnya ada kesempatan. Saya ini sudah dicekoki musik rock dari tahun 1983 dan Iron Maiden sampai sekarang masih saya dengarkan, cuma memang hanya nomor-nomor lama mereka. Lagu-lagu terbarunya saya enggak ngikutin," kata Deacon.

Ada yang menyebabkan Deacon mengaku demikian. Ia bilang, dirinya bukan tidak suka dengan lagu-lagu baru Iron Maiden. Namun, sejak Bruce Dickinson hengkang dari Iron Maiden, Deacon perlahan menjauhi band itu.

Seperti diketahui, Dickinson pernah meninggalkan Iron Maiden setelah sebuah tur perpisahan pada 1993 untuk berkonsentrasi di solo kariernya. Penampilan terakhirnya dengan band pernah difilmkan oleh BBC dan dirilis sebagai live video "Raising Hell".

Kemudian, bersama Adrian Smith, Dickinson kembali bergabung dengan Iron Maiden pada 1999 dan membuat sebuah tur kecil. Sejak itulah, kerinduan Deacon dengan Iron Maiden kembali memuncak.

Dengan hidupnya yang mapan, kini Deacon mulai mengejar konser-konser Iron Maiden di mancanegara, mulai dari Amerika Serikat, Jepang, sampai Australia, dan terakhir malam ini, di Jakarta. Bahkan, setelah konser malam ini di Jakarta, Deacon sudah bersiap menyongsong konser Iron Maiden di Bali, 20 Februari 2011.

"Vokal yang melengking dan energi yang prima, itulah hebatnya Dickinson di mata saya. Dia pakai suara perut dan staminanya tak pernah kendor di panggung. Lihat saja. Ini membuat kita juga semangat menyaksikannya," komentar Deacon di tengah bisingnya konser.

Tak ubahnya Deacon, alasan Bagus "Netral" pun begitu. Ia mengatakan, Iron Maiden tetap konsisten, baik dari sisi produktivitas dalam mencetak album, maupun dalam menggelar konser dunia.

"Perjalanan mereka selama 30 tahun lebih itu hebat sekali dan kita di Indonesia memang menantikannya," ujar pemain bas Netral itu sesaat menjelang konser.

Ia mengakui, ide-ide kreatif kru Iron Maiden juga selalu konsisten untuk mendukung perjalanan band tersebut. Atraksi panggungnya selalu energik meski semua personelnya terbilang berusia sepuh.

Terbukti

Sebanyak 16 lagu dibawakan tuntas oleh Iron Maiden, yaitu "The Final Frontier", "El Dorado", "2 Minutes to Midnight", "Coming Home", "Dance of Death", "The Trooper", "The Wicker Man", "Blood Brothers", "When the Wild Wind Blows", "The Evil That Men Do", "The Talisman", "Fear of the Dark", "Iron Maiden", "The Number of the Beast", "Hallowed Be Thy Name", dan "Running Free". Namun, dari pantauan Kompas.com, yang mendapatkan apresiasi tertinggi justru nomor-nomor lawas mereka, yaitu "2 Minutes to Midnight", "The Trooper", "The Wicker Man", "Fear of the Dark", "Iron Maiden", "The Number of the Beast", dan "The Trooper".

Selain karena rata-rata penonton terlihat sangat hapal jika menyanyikan nomor-nomor lawas tersebut, mereka juga mengakui bahwa selama ini banyak ketinggalan dengan sosok Iron Maiden.

"Saya punya koleksinya, tapi mulai berhenti sejak adanya band-band lain seperti Metallica, Anthrax, dan lain-lain hingga di generasi musik metal sekarang," kata Faiz, salah seorang penonton.

Kris pun mengakui itu. Datang bersama lima kawannya ke area konser, harapannya adalah mengobati kerinduan saat-saat masa jaya Iron Maiden pada paruh awal 1990-an.

"Sebetulnya saya terlambat mengenal mereka karena waktu SMA melihat ada koleksi kakak yang suka Iron Maiden. Tapi karena perkembangan musik sangat cepat, sementara koleksi kakak saya tidak bertambah, saya juga tidak lagi mengikuti Iron Maiden. Padahal saya tahu, mereka keren banget dengan lagu-lagu lamanya dulu," kata Kris.

Kendati demikian, konser Iron Maiden tentu bukan hanya konser untuk mereka yang mengenal akrab Iron Maiden pada zaman baheula. Tadi malam, banyak juga anak-anak muda usia SMA yang menonton, tetapi sangat menggilai lagu-lagu lawas grup itu.

"Lagu baru mereka tahu, tapi kalau mau bilang paling keren, ya, memang yang lama-lama. Legend soalnya," ujar Tommy, yang datang bersama rombongan seusia ABG.

Iron Maiden Menggebrak Penuh Energi

Bruce Dickinson (meloncat), vokalis band heavy metal legendaris Iron Maiden, beraksi dalam konser The Final Frontier World Tour 2011, di Pantai Carnaval Ancol, Jakarta, Kamis (17/2/2011). Selain di Jakarta Iron Maiden juga akan menggelar konsernya Sabtu (20/2/2011) di Bali.

JAKARTA, KOMPAS.com — Kesabaran penggemar Iron Maiden untuk bertemu idolnya akhirnya tertumpah di Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta, Kamis (17/2/2011) malam, saat Bruce Dickinson membuka konser "The Final Frontier World Tour 2011" dengan lagu "The Final Frontier". Dickinson membuat kerinduan penggemar Iron Maiden benar-benar terwujudkan.

Setelah "The Final Frontier", Bruce Dickinson (vokal), Steve Harris (bas), Dave Murray (gitar), Janick Gers (gitar), Adrian Smith (gitar), dan Nicko McBrain (drum) langsung menggebrak dengan tiga nomor sekaligus, yaitu "El Dorado", "2 Minutes to Midnight", dan "Coming Home".

"Apa kabar kalian malam ini? Ini pertama kali kami bermain di Jakarta untuk membawakan lagu-lagu album The Final Frontier," sapa Dickinson.

Sampai beberapa kali Dickinson tampak berusaha melakukan komunikasi dengan penonton. Bahkan, di lagu ketiga, "2 Minutes to Midnight", semua penonton diajak untuk kompak bernyanyi ditemani tata lampu yang dimainkan dengan apik mengikuti reff-reff lagu tersebut hingga menjadi kor yang sangat riuh. Sempurna.

Keriuhan itu berulang saat Iron Maiden memainkan "Fear of the Dark". Penonton tampaknya semakin dibuat panas oleh Dickinson dan kawan-kawannya. Semua bernyanyi, berjingkrak, dan berteriak sekencang-kencangnya.

Stamina yang "gila"

Sebanyak 16 lagu dibawakan tuntas oleh Iron Maiden, yaitu "The Final Frontier", "El Dorado", "2 Minutes to Midnight", "Coming Home", "Dance of Death", "The Trooper", "The Wicker Man", "Blood Brothers", "When the Wild Wind Blows", "The Evil That Men Do", "The Talisman", "Fear of the Dark", "Iron Maiden", "The Number of the Beast", "Hallowed Be Thy Name", dan "Running Free". Maka, sejak awal konser itu dibuka, kerinduan penggemar band heavy metal asal Inggris itu tampak terwujudkan.

Terwujudnya kerinduan semakin menjadi-jadi, apalagi tatkala Dickinson terus memanaskan penonton lewat aksi-aksinya. Ia seolah tak habis energi untuk berlari ke hampir semua sisi panggung dengan lincah, selincah lengking suaranya.

"Itulah hebatnya Dickinson. Dia pakai suara perut dan staminanya masih prima sekali. Ini membuat kita juga semangat menyaksikannya," komentar John Deacon, salah seorang penonton, kepada Kompas.com di antara bising musik.

Selain sang frontman, aksi-aksi mengagumkan dari para penggawa Iron Maiden lainnya juga tak kalah mendapat perhatian dan tepuk tangan riuh dari penonton. Aksi duet gitaris Dave Murray dan pemain bas Steve Harris, misalnya. Keduanya terlihat solid sehingga selalu membuat penonton histeris. Apalagi ketika ketiga gitaris saling berdiri berjajar atau masing-masing mengeluarkan gaya sendiri-sendiri dalam memainkan melodi gitar yang bersahut-sahutan, penonton langsung memberikan aplaus.

"Teriaklah untukku Jakarta!" kata Dickinson yang lantas disambut teriakan penonton. Habis berucap demikian, meluncurlah hit lawas mereka, "Iron Maiden". Lagi-lagi, band yang dibentuk di Leyton, Inggris, pada 1975 ini menampilkan atraksi mengejutkan dengan masuknya robot raksasa simbol Iron Maiden, Crazy Eddie, ke atas panggung. Bahkan, di ujung lagu itu usai, Janick menambah aksi menjadi semakin menggila dengan memutar-mutarkan gitarnya di udara.

Seusai lagu ke-13 berikut aksi penutupnya yang mengejutkan itu, penonton seolah dibuat "terkecoh" oleh Iron Maiden. Pasalnya, Dickinson sudah mengucapkan kata, "Thank you!". Sang penabuh drum pun telah melemparkan beberapa buah stiknya ke penonton, sementara para personel lain juga melepaskan semua alat musik dari badan masing-masing kemudian pergi ke balik panggung. Seisi panggung juga telah berubah menjadi gelap gulita.

Sontak, penonton pun meminta Iron Maiden kembali tampil. "We want more, we want more!" teriak penonton dari seluruh area konser.

Hanya satu menit berselang, lampu kembali menyala. Tiga gitaris, Dave, Janick, dan Adrian, langsung beraksi memainkan melodi menyambut tata lampu yang kembali berpijaran.

Iron Maiden kembali menggebrak dengan "The Number of the Beast", yang ternyata telah ditunggu dan langsung dielu-elukan oleh penggemarnya. Hingga tersisa dua lagu, energi Dickinson dan kawan-kawan masih tak juga habis. Bahkan, ketika menutup konser dengan "Running Free", Dickinson masih memperpanjang durasi lagu itu dengan mengenalkan satu per satu personelnya kepada penonton.

"Saya rasa, satu waktu saya akan kembali dan Anda akan bertemu lagi dengan kami," ujar Dickinson sebelum benar-benar menutup konsernya jelang dini hari tadi.

Rio Febrian Berharap Tuah dari Nama David Foster

JAKARTA, KOMPAS.com -- Pasangan artis Rio Febrian dan Sabrina Kono akhirnya menjadi orangtua setelah kelahiran anak pertama mereka, Jamaika Fosteriano Febrian, Rabu (16/2/2011), dengan bobot 2,040 kilogram dan panjang 44 centimeter melalui proses operasi sesar.

Dengan perasaan berbunga-bunga, Rio menjabarkan setiap makna yang terkandung dalam nama lengkap putranya. "Jamaika tempat yang pengin kami kunjungi dari dulu, tapi enggak kesampaian. Fosteriano dari David Foster," jelas Rio saat dijumpai di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, Kamis (17/2/2011).

Untuk mendapatkan nama tersebut, Rio semula mengaku kesulitan. "Namanya itu setengah mati ngasihnya, sementara yang di kepala gue banyak. Mencari nama itu doa dan karya, karya terbesar itu yang pernah dikeluarin dalam jiwa gue," ujar Rio.

Rio berharap dengan nama besar komposer asal Amerika, David Foster, putranya tersebut akan menjadi seseorang di masa yang akan datang. "Harapannya apa pun, yang penting dijalani dengan hatinya dia," tutup Rio.  

Thursday, February 17, 2011

Ramli: Saya Takut Enggak Punya Waktu Lagi

JAKARTA, KOMPAS.com -- Beberapa malam lalu, perancang busana Ramli (60) merayakan 35 tahun berkarya sekaligus meluncurkan buku biografi. Seperti mengejar waktu, buku itu dicetak Gramedia kurang dari sepekan. ”Saya takut enggak punya waktu lagi,” papar Ramli.

Kekhawatiran perancang menaikkan gengsi bordir ke kelas atas Indonesia itu beralasan. Ramli diketahui terkena kanker usus pada 3 November 2009. Meski Senin (14/2/2011) sore sempat mengeluh lelah, Rabu lalu dia sudah di Sampang, Madura, memenuhi undangan bupati. Tak lupa Ramli membawa beberapa buku biografinya yang langsung habis dibeli. ”Kalau mereka mau meniru kreasi saya di buku itu, enggak apa-apa,” kata Ramli dari Sampang, Kamis.

Ramli mengandalkan sahabatnya, Mien Uno, untuk mengoordinasi pembuatan biografi yang ditulis Alberthiene Endah serta peluncurannya di Hotel Dharmawangsa, Jakarta.

Berada di antara teman membangkitkan semangat hidup Ramli, bekerja sebagai perancang menjadi napasnya. Akan tetapi, keponakan yang menjadi anak angkatnya, Kiki, adalah sumber kekuatan utama. ”Kiki membuat saya berjuang. Dia enggak mau saya menyerah. Dia dokter lulusan FKUI (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Sekarang ambil spesialisasi bedah,” kata Ramli bangga. (NMP/DAY)

Dickinson: Kami Lebih Suka Bicara Konser daripada Grammy!

JAKARTA, KOMPAS.com -- Kendati pada akhir minggu lalu, 13 Februari 2011 waktu Los Angeles (California, AS), Iron Maiden meraih Grammy Awards pertama selama 35 tahun sejak band itu terbentuk di London, Inggris, band heavy metal itu menyambut biasa-biasa saja penghargaan Best Metal Performance untuk lagu "El Dorado" dari album terakhir mereka, The Final Frontier.

Dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (16/2/2011), vokalis Iron Maiden, Bruce Dickinson, mengaku lebih senang berbicara tentang konser mereka pada Kamis (17/2/2011) malam ini di Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta. Dickinson juga menjelaskan bahwa ia dan rekan-rekannya merespon kemenangan itu dengan biasa-biasa saja. "Ya, itu biasa saja daripada mereka tidak memberikan apa-apa. Saya jauh lebih tertarik untuk membahas konser kami di sini," ujarnya. 

Dickinson mengatakan pula, Iron Maiden tidak ada perhatian khusus atas kemenangan tersebut. "Kami merupakan band heavy metal unik Inggris setelah Black Sabbath. Sampai saat ini kami tetap seperti itu, melintas dari generasi ke generasi. Kami hanyalah band heavy metal," ujarnya lagi mengenai konsistensi band tersebut dalam menggelar tur.

Iron Maiden akan mengadakan konser perdana mereka di Indonesia, Kamis (17/2/2011) malam ini, dalam The Final Frontier World Tour 2011, di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta Utara. Seperti dikatakan oleh Dickinson dalam jumpa pers di Hotel Shangri-La, Rabu (16/2/2011), Iron Maiden berjanji menampilkan permainan terbaik mereka.

Dickinson mengungkapkan, konser malan nanti merupakan konser "100 persen" Iron Maiden yang dipersiapkan dengan baik, mulai para pemain hingga semua peralatan band yang mereka bawa sendiri. Ia mengaku pula, awatiran bagi band yang dipunggawai oleh Bruce Dickinson (vokal), Steve Harris (bass), Dave Murray (gitar), Janick Gers (gitar), Adrian Smith (gitar) dan Nicko McBrain (drum) ini.

Rini S Bon Bon Mau Umrah, Ibunda Koma

JAKARTA, KOMPAS.com -- Setelah berhasil berjuang melawan penyakit diabetes yang dideritanya dan hendak menjalani ibadah umrah, pelawak Rini S Bon Bon mendapat cobaan lagi. Muningsih, ibu kandungnya, jatuh koma dan terpaksa dirawat di rumah sakit.

"Ya, ini ujian saya. Ketika saya mau berangkat umrah dengan Jeng Ana (ahli pengobatan herbal), malah dikasih cobaan seperti ini," kata Rini ketika dihubungi melalui telepon genggamnya di Jakarta, Kamis (17/2/2011).

Muningsi terserang stroke hingga tidak sadarkan diri pada 3 Februari 2011 dan terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit St Carolus, Jakarta Pusat. "Dari tanggal 3 Februari sudah masuk dan sebelumnya sudah ngeluh matanya enggak bisa melihat. Saya pikir, mata bagian dalam, tapi enggak tahunya katup matanya.  Kata dokter, ada stroke di kepala," ceritanya.

Perawatan sang bunda membutuhkan banyak biaya. Rini pun harus memutar otak untuk mendapatkan uang. "Enggak ada biaya, kami kakak-beradik aja berembuk. Kami masih ada yang kerja, ya saweran aja. Untuk orangtua, maaf-maaf, kalau harus gali lubang tutup lubang kami belain, yang penting ibu sehat," ujarnya.

Sampai saat ini Rini hanya bisa berdoa untuk kesembuhan ibunya. "Ya, sebagai anak kami membantu dengan doa tentunya," ujarnya lagi.

Kala Ronal Surapradja Menanti Sosok Negarawan

JAKARTA, KOMPAS.com -- Bukan tanpa maksud bila Ronal Sunandar Surapradja (33) mengkritisi Indonesia melalui beberapa lagu, baik di album Ronaldisko (2007) maupun Rocknal (2011). Tanpa menuding orang tertentu, Ronal ingin menunjukkan bahwa Indonesia bisa hancur bila para politikus tidak bisa memisahkan kepentingan negara dengan partai.

”Masalahnya, sekarang negara kita belum mempunyai sosok negarawan. Semua politikus. Entah kapan muncul negarawan di negara kita,” tutur Ronal yang berencana mempromosikan album keduanya di Jakarta, Bandung (Jawa Barat), Surabaya (Jawa Timur), dan Yogyakarta.

Ronal memimpikan kehadiran negarawan yang dicintai rakyat, sosok yang mampu mempersatukan berbagai kalangan dan membawa keluar Indonesia dari keterpurukan. Dia pun merujuk beberapa negarawan pada awal kemerdekaan, seperti duet Soekarno-Hatta dan Sutan Sjahrir.

Idealnya, negarawan dari partai mana pun bisa menempatkan diri. Semua persoalan dan konflik yang kini tengah dihadapi Indonesia sebenarnya bisa diatasi dengan baik dan diperjuangkan. Hanya saja, kebanyakan orang yang berkompeten malah memiliki motif terselubung.

”Sedih aja, gue ngerti mekanisme kekuasaan lewat partai. Tetapi, ketika dia menjadi presiden atau menteri, artinya dia negarawan. Jangan bawa-bawa kepentingan partainya,” tuturnya. (BEE)

Pemusik Indonesia: Iron Maiden, Mbah-nya Heavy Metal!

JAKARTA, KOMPAS.com -- Kedatangan Iron Maiden ke Indonesia ternyata juga dijadikan momentum bernostalgia oleh para pemusik Indonesia tentang band heavy metal asal Inggris itu. Tiga pemusik rock yang ditemui menjelang konser Iron Maiden The Final Frontier World Tour 2011, Kamis (17/2/2010) malam, di Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta Utaram memandang grup tersebut sebagai "mbah heavy metal".

"Karena, mereka konsisten, baik dari produktivitas mencetak album hingga konser. Perjalanan mereka selama 30 tahun lebih itu hebat sekali dan kita di Indonesia memang menantikannya," ujar Bagus, vokalis dan pemain bas Netral, kepada Kompas.com.

Bagus mengakui, ide-ide kreatif kru Iron Maiden juga selalu konsisten untuk mendukung perjalanan band tersebut. Atraksi panggung Iron Maiden pun selalu enerjik meski mereka terbilang berusia sepuh. "Saya berharap mereka malam ini membawakan hits lama mereka. Karena, jujur, saya kenal mereka dari lagu-lagu klasik mereka dan tidak mengikuti album-album terakhir mereka," ucapnya.

Ivanka, pemain bas grup Slank, juga mengakui hal yang sama. Di matanya, kedatangan Bruce Dickinson dan kawan-kawannya sudah dinanti lama bukan hanya oleh dirinya, melainkan juga oleh para penggemar lain. "Terus terang ini konser nostalgia. Saya kenal mereka sejak SMP sampai SMA, di masa kejayaan metal tahun-tahun awal 90-an. Tapi, kan waktu itu mereka enggak ke sini, kapan lagi bisa lihat mereka," katanya.

Hebatnya, puji Ivanka, Iron Maiden bukan sekadar bermusik, melainkan juga tergolong grup yang serius dengan kerja kreatif, dari tata panggung, lampu, hingga ikon-ikon grafis Iron Maiden yang selalu berubah-ubah. "Mereka memikirkan itu semua sejak mereka berdiri dan konsisten sampai sekarang. Crazy Eddie yang mereka jadikan tema simbol kali ini adalah yang teranyar dan jelas sekali sebagai ciri khas mereka," paparnya.

Sementara itu, Stevie Item, gitaris Andra and the Backbone dan DeadSquad, pun sependapat. Ia sepakat, konsistensi Iron Maiden patut diacungi jempol. "Mereka 'mbahnya heavy metal' yang eksis saat ini, tidak ada yang lain. Mereka menginspirasi banyak band di dunia dan bertanggung jawab atas hal itu dengan terus membuat karya-karya yang bagus dan konser yang keren. Salut dan saya menunggu aksi mereka malam ini," katanya.

Iron Maiden--Bruce Dickinson (vokal), Steve Harris (bas), Dave Murray (gitar), Janick Gers (gitar), Adrian Smith (gitar), dan Nicko McBrain (drum)--siap menggelar konser mereka pada Kamis (17/2/2011) malam. Terpantau oleh Kompas.com, para penggemar Iron Maiden dari berbagai kalangan sudah memadati area konser di Pantai Karnaval, Ancol, sejak kira-kira pukul 15.00 WIB.

"Jakarta Love Riot" Kembali dengan Sentuhan Baru

JAKARTA, KOMPAS.com -- Sukses ketika pertama kali dipanggungkan, pada 2010, dan banyak orang yang belum mendapat kesempatan menonton ketika itu, pertunjukan musikal Jakarta Love Riot akan kembali dipentaskan oleh EKI Dance Company dan Kompas Gramedia Life Style Division, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), 23-27 Februari 2011.

"Pertunjukan ini dibuat berdasarkan permintaan khalayak yang tidak mendapatkan tiket pada pergelaran tahun lalu," kata Produser Eksekutif Jakarta Love Riot, Aiko Senosoenoto, dalam jumpa pers di East Mall, Grand Indonesia, Kamis (17/2/2011).

Meski dihadirkan kembali, pertunjukan yang mengisahkan kehidupan sepasang remaja yang berbeda status, saling jatuh cinta, tapi menyulut kerusuhan di dua lingkungan itu dijamin telah dikembangkan. "Walau pun ini pertunjukan ulang, pergelaran kali ini mengalami banyak pengembangan. Mulai dari jalan cerita, lagu, tata panggung, hingga tarian," janji Aiko.

Selain itu, melalui visi yang baru, Rusdy Rukmarata, yang kembali didapuk menjadi sutradara, mengaku banyak memberi sentuhan baru pada Jakarta Love Riot kali ini. "Perbedaannya banyak sekali. Tadinya, tadinya mau ngasih sedikit-sedikit, tapi jadinya ternyata banyak. Dari sudut cerita, konfliknya bertambah. Waktu itu kurang 'ajaib', seperti Toto anak tunggal dan Nala anak tunggal, sekarang Nala jadi ada adiknya," tutur Rusdy menyebut contoh. "Tokoh Jos akan kami eksploitasi lagi. Bahkan, ada latihan khusus, itu perlu dilihat," lanjutnya.

Penekanan alur cerita pun kini ditempatkan oleh Rusdy pada bagian akhir pementasan. "Dari segi cerita, ending berubah agak besar, karena yang dulu ending-nya dadakan," ucapnya. "Kalau dulu konflik biasa saja, kali ini ada korban, sedangkan konflik yang utama terjadi antara adik dengan kakak. Jadi, adik Nala punya peran signifikan di sini," sambungnya. "Kalau dari adegannya, ada 60 persen yang baru, yang tetap hanya 40 persen," ucapnya lagi.

Jenis tari yang mengisi pementasan Jakarta Love Riot pun diubah. "Segi tarian kami lebih entertain, variasi ditambah, ada tap dance dan tari mangkok pakai musik hip-hop. Dan, ada satu tarian lagi yang agak teknis, tapi nanti kita bisa lihat lagi," sebutnya lagi. "Sebenarnya tap dance salah satu favorit saya, cuma tidak bisa dipaksain. Tapi, kebetulan di script yang sekarang ada peluang buat memasukkan tap dance dan orang juga sudah banyak tahu itu," imbuhnya.

Karena itu, agar melebihi pencapaian Jakarta Love Riot tahun lalu, Rusdy kembali memertahankan tim artistik yang lama. "Kami memertahankan tim artistik yang lama, karena makin lama makin solid. Kami ada the winning team, jadi never change the winning team," ungkapnya. "Kami bertahan pada artistik yang lama, karena itu yang paling sulit. Ini supaya nyawa musikal tetap satu," timpal Aiko.

Dengan sejumlah visi tersebut, tak ada alasan lain bagi Kompas Gramedia untuk menolak memproduseri pementasan ulang Jakarta Love Riot. "Pertama memang kualitas. Dari pertunjukan musikal yang terakhir ini, kami melihat EKI sudah siap, sudah khatam, jadi kenapa enggak kami coba yang terbaik. Kami merasa punya visi yang sama dengan EKI, saya sudah mengenal EKI dari 1997. Dari pertama kali kenal, rasanya grup ini beda dengan semangat menggerakkan orang muda. Itulah yang harus didukung, karena seni itu bukan instan, tapi harus didukung dengan hal lain dan EKI punya itu semua," tutur Publisher Woman Lifestyle Magazine Kompas Gramedia, Reda Gaudiamo.

Wednesday, February 16, 2011

Berbikini, Demi Moore Curi Perhatian

KARIBIA, KOMPAS.com Usia boleh saja hampir mendekati kepala lima. Namun untuk urusan merawat ragawi, Demi Moore memang jagonya. Dalam usia yang kini menginjak 48 tahun, Moore masih terlihat segar bugar, ramping, seksi, dan begitu memesona.    

Kondisi ini boleh jadi membuat banyak perempuan seusianya iri. Seperti halnya ketika ia berlibur merayakan Valentine bersama sang suami, Ashton Kutcher, di pantai kawasan Kepulauan Karibia, pekan lalu.

Kemunculan Moore begitu menyedot perhatian banyak pengunjung pantai. Ia mengenakan bikini berwarna hitam. Bentuk tubuhnyalah yang membuat mereka mencuri-curi pandang ke Moore. 

Kutcher—yang usianya terpaut jauh dari Moore—terlihat bangga saat menemani istrinya berjemur di bibir pantai. 

Merawat tubuh tetap ideal memang menjadi tuntutannya. Seperti diakui Moore kepada sejumlah media beberapa waktu lalu, penampilan menjadi modal baginya untuk tetap bisa bertahan di jagat hiburan. 

Ia juga pernah bilang bahwa apa yang dilakukannya untuk tetap membuat suami senang dan bangga semata.

Mengenai kesibukannya di panggung film, ibu dari empat anak itu baru saja merampungkan proyek untuk film terbarunya, Another Happy Day. Film drama yang juga dibintangi Kate Bosworth dan Ellen Barkin itu diputar untuk kali pertama di ajang Festival Film Sundance.

Dalam kesempatan tersebut, film garapan sutradara Sam Levinson, itu disambut positif.  Moore akan berperan sebagai istri kedua dari tokoh bernama Paul, yang diperankan aktor Thomas Haden Church.

"High Heel Platform Shoes" Pilihan Heidi Klum hingga Kelly Osbourne

LOS ANGELES, KOMPAS.com -- High heel platform shoes menjadi alas kaki pilihan sejumlah selebriti yang hadir dalam Grammy Awards 2011, yang telah digelar di Staples Center, Los Angeles (California, AS), 13 Februari 2011 malam waktu setempat.

Sebut saja Jennifer Lopez (JLo), Heidi Klum, Katy Perry, dan Kelly Osbourne mengenakan sepatu jenis itu, baik untuk melengkapi gaun panjang maupun gaun mini. Klum dan JLo sama-sama memilih merk Christian Louboutin, Perry dengan Casadei, dan Osbourne memilih Alexander McQueen.

High heel platform shoes bisa membantu menjadikan penampilan mereka anggun dan seksi sebagaimana high heels. Tapi, dengan memakai high heel platform shoes, kaki lebih nyaman dibandingkan dengan mengenakan high heels, karena telapak kaki tidak menjadi terlalu melengkung.

Agnes Monica antara Pujian dan Celaan

JAKARTA, KOMPAS.com -- Menyebut nama Agnes sebagai topik perbincangan akan selalu mengundang dua macam respon: Rasa kagum dan jadi bahan ledekan.

Agnes Monica bisa disebut sebagai salah satu artis muda potensial yang pernah dimiliki Indonesia. Mengawali karier sebagai penyanyi cilik dan presenter acara anak-anak, Agnes sudah langsung berhasil mencuri perhatian lewat karakternya yang imut dan cerdas.

Karier menyanyinya di saat masih anak-anak memang terbilang kalah pamor dibanding penyanyi anak-anak seangkatannya, bisa dibilang Agnes jarang bisa menghasilkan lagu-lagu hits dari album anak-anak yang dua keluarkan. Tetapi karakternya yang kuat mampu membuat Agnes tetap punya tempat di jagat hiburan dengan penonton anak-anak.

Menginjak usia remaja sepertinya menjadi langkah yang tepat bagi Agnes untuk menunjukkan kemampuannya. Dia berhasil menjelma dari bintang cilik menjadi pemain sinetron remaja. Debut aktingnya memang secara kebetulan teruji pada sinetron yang ditujukan untuk penonton remaja, Lupus dan Pernikahan Dini. Karena saya bukan penggemar sinetron (bahkan mungkin bisa disebut benci setengah mati terhadap sinetron) maka saya kurang punya kapasitas untuk mengomentari akting Agnes di sinetron.

Begitu merilis album remaja pertamanya yang berjudul And The Story Goes Agnes langsung mengharu biru blantika musik Indonesia. Secara penampilan dan musikalitas, Agnes memang terlihat berbeda dan selangkah lebih maju dibanding penyanyi-penyanyi seniornya saat itu.

Kalau penyanyi-penyanyi seniornya cenderung saling meniru gaya menyanyi dan berbusana satu sama lain sehingga semuanya tampak seragam dan sama, Agnes justru memilih untuk meniru gaya busana Britney Spears dan gaya bernyanyi Christina Aguilera.  Meski mendapat kritikan sebagai tukang tiru artis luar negeri, toh Agnes tetap melaju sebagai salah satu penyanyi terbaik Indonesia dan yang paling ditunggu penampilannya disetiap acara-acara on air atau off air. Penggemarnya juga sangat lintas usia, mulai dari anak-anak sampai usia dewasa.

Sukses dengan album pertama, Agnes langsung merasa percaya diri mampu menggebrak pasar musik internasional. Slogan go internasional mulai sering didengungkan, apalagi Agnes mulai pamer kemampuan bahasa Inggrisnya dengan cara menyelipkan beberapa kata dalam bahasa Inggris dalam statement-nya yang berbahasa Indonesia.

Tak jarang Agnes juga menggunakan bahasa Inggris pada wawancara yang berformat bahasa Indonesia. Bukan hal yang haram memang karena di Indonesia sangat jarang kita menemukan artis yang bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar, tetapi tentu terlihat sedikit salah tempat.

Memiliki bakat dan penampilan yang memadai ke arah bursa internasional, wacana go internasional itu disertai Agnes dengan pembuktian menuju ke arah sana. Agnes sibuk bermain sinetron, termasuk menjadi figuran serial Taiwan yang (katanya) juga  dibintangi oleh Jerry Yan. Kemudian tampil di Asian Music Festival di Korea, duet dengan penyanyi Amerika: Keith Martin, dan yang paling mencengangkan adalah menjadi co-host American Music Award 2011 (meskipun kenyataannya saya tidak menemukan secuil-pun penampakan dari Agnes ketika menyaksikan tayangan American Music Award di channel ABC).

Memang pada official Press Release, Agnes tampak pada video dengan gerombolan yang tidak saya kenal (yang katanya adalah para co-host dari berbagai negara) dan anehnya Agnes adalah satu-satunya yang berbicara dalam bahasa Indonesia sementara co-host yang lain berbicara dalam bahasa Inggris yang baik.

Agak mengherankan karena di Indonesia, Agnes dikenal sebagai artis yang sangat bersemangat menggunakan bahasa Inggris. Tetapi ketika berada pada teritori yang menggunakan bahasa Inggris, Agnes malah terkesan tidak percaya diri. Gayanya yang gelagapan saat hanya bisa memberi jawaban ‘I don’t know. I’m so excited. Are you excited?’ sempat menjadi bahan ledekan di beberapa forum online dan situs jejaring sosial.

Itulah Agnes Monica, bakatnya mengundang decak kagum tetapi semangatnya yang menggebu-gebu dan terkesan sobbish sering menjadi bahan tertawaan. Darah mudanya membuat Agnes berani bermimpi setinggi langit dan kemudian dengan semangat luar biasa membicarakannya kepada orang lain. Namun sayang, usahanya mungkin masih kurang keras sehingga sampai saat ini mimpi itu belum juga terwujud. Bahkan tak jarang bagi beberapa orang Agnes dinilai terlalu muluk bermimpi.

Saat ini kabarnya Agnes sudah mendapat kontrak rekaman di Amerika (kabar yang sama seperti yang pernah kita dengar lima tahun yang lalu), dan sekarang Agnes (kabarnya kagi) sedang berada di Amerika untuk proyek besar tersebut. Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Agnes karena selama ini Agnes sudah terlalu banyak mengumbar rencana besar tanpa bukti.

Masih ingat dengan statement Agnes yang mengatakan tidak mungkin meninggalkan karier dan popularitasnya di Indonesia demi mengejar karier internasional. Rasanya statement ini tidak realistis, bagaimana mungkin Agnes bisa membangun karier di luar negeri sementara dia berada di Indonesia. Kecuali kalau Agnes membangun kariernya melalui uang, bukan menjual bakat dan menjalin relasi.  Dia tinggal menyuruh dan membayar orang lain yang mencari peluang dan kesempatan untuknya di luar sana.  Tetapi dengan bakat dan kemampuan se-luar biasa itu, sangat sayang jika Agnes menempuh jalur seperti itu.

Rasanya Agnes memang perlu belajar bahwa setiap orang bebas bermimpi, tetapi untuk mewujudkan mimpi ada harga yang harus dibayar. Mudah-mudahan itu yang sekarang dia coba aplikasikan dengan berangkat ke Amerika. Tinggalkan kontrak sinetron dan iklan yang tak membangun image Agnes ke arah brand image yang lebih tinggi. Toh kalau misalnya gagal (mudah-mudahan sih sukses), dia masih bisa kembali ke Indonesia dan menjadi superstar lagi. Bukankah semua usaha ada risikonya?

Katy Perry: Bidadari Putih di Karpet Merah

LOS ANGELES, KOMPAS.com -- Vokalis Katy Perry melangkah di karpet merah Staples Center, Los Angeles (California, AS), pada pergelaran Grammy Awards 2011, 13 Februari malam, dengan dandanan bagai bidadari. Meski tak meraih penghargaan sama sekali dalam ajang tersebut, setidaknya ia sudah menarik perhatian lewat penampilannya itu.    

Perry memilih gaun panjang putih menyapu lantai dari label Armani Prive, rancangan Giorgio Armani. Bustier-nya berlapis kristal Swarovski. Sepasang sayap-sayapan bidadari dari bulu-buluan berwarna putih melengkapinya. Semua itu ditambahnya dengan high heels berlabel Casadei yang senada dengan bustier-nya serta perhiasan karya Thomas Sabo.

Wartawan Makassar Diusir (Manajemen) Ahmad Dhani

MAKASSAR, KOMPAS.com -- Sejumlah wartawan di Makassar dibuat kesal oleh pihak manajemen Ahmad Dhani School of Rock milik pentolan Dewa 19 Ahmad Dhani, saat menghadiri peresmian sekolah tersebut di Ruko Ramayana Pettarani, Makassar, Selasa (15/2/2010).

Penyebabnya, mereka dibuat tak nyaman dengan perlakuan petugas yang melakukan pengusiran kepada sejumlah wartawan yang diundang untuk meliput acara peresmian sekolah tersebut.  

Seperti ditulis kompasianer Rahmat Hardiansya dari Makassar, Selasa (15/2/2011), insiden pengusiran wartawan yang bertugas saat itu terjadi usai proses seremoni peluncuran gedung berlantai tiga tersebut. 

Di saat itulah, salah satu pegawai dari Republik Cinta Management (RCM) berbadan tegap dengan mengenakan baju bertulis Ahmad Dhani School of Rock, mengusir sejumlah wartawan yang tengah menikmati sajian makan siang dan duduk di  sofa hitam panjang di lobi gedung tersebut.  

“Tolong tinggalkan sofa, Ahmad Dhani mau duduk,” ucap pria itu sedikit meninggi. 

“Pamali Pak, kalau orang makan disuruh keluar, biar habis dulu makanannya,” ujar rekan wartawan dari surat kabar Tempo Makassar menimpali ucapan petugas tersebut.

Tak cuma rekan dari Tempo, rekan wartawan dari Tribun Timur Makassar, Makassar Terkini dan dari media online juga menjadi korban pengusiran oleh seorang perempuan dari sekolah milik Dhani itu. 

Tak terima dengan perlakuan tersebut, mereka memilih bergeming. Toh, kedatangan mereka diundang secara resmi oleh pihak manajemen. “Kita ini diundang secara resmi, tapi nyatanya diperlakukan seperti ini,” ujar Mute, wartawan Tribun Timur Makassar.

Kepada mereka, pria tersebut meminta wartawan untuk tidak ada lagi masuk ke dalam lobi, sebab di luar ruangan, tepatnya di parkiran, mereka telah menyediakan makanan khusus para tamu dan wartawan yang hadir. Sementara ruang lobi tersebut akan digunakan pihak manajemen dengan sang artis untuk makan siang. Setelah menanti dua jam, Ahmad Dhani saat itu datang bersama Maha Dewi.

Atas perlakuan tersebut, pihak wartawan menyesalkan hal tersebut.   Padahal sebelum acara dimulai, pihak manajemen bahkan terus mendesak wartawan agar menghadiri acara tepat waktu, mengingat Ahmad Dhani sudah hampir tiba dari Singapura.

Hingga saat ini, belum ada permohonan maaf dari manajemen Ahmad Dhani perihal kejadian tersebut. (Kompasiana/Rahmat Hardiansya)

Iron Maiden Ingin Santai di Bali

JAKARTA, KOMPAS.com — Band heavy metal legendaris dari Inggris, Iron Maiden, siap menggebrak Jakarta, Kamis (17/2/2011) besok. Band yang dua hari lalu menggaet The Best Metal Performance di ajang Grammy Award 2011 untuk lagu ”El Dorado” ini juga akan tampil di Bali, Minggu mendatang. Apakah dua show itu akan sama saja?

”Sepertinya begitu. Namun, itu tergantung pada apa yang disediakan penyelenggara. Intinya, kami tahu apa yang akan kami berikan dalam tiap konser, apalagi kami akan tampil dua kali (di Indonesia),” ujar Steve Harris, pemain bas Iron Maiden, lewat telepon beberapa saat sebelum grup band itu tampil di Singapore Indoor Stadium, kemarin.

Dari Indonesia, Iron Maiden akan melanjutkan tur dunianya, The Final Frontier World Tour 2011, ke Australia. ”Saya berharap, sebelum terbang ke Australia, kami punya waktu satu hari yang menyenangkan di Bali,” tutur Harris.

Band yang dibentuk tahun 1975 itu beranggotakan Steve Harris (bas), Bruce Dickinson (vokal), Nicko McBrain (drum), serta Dave Murray, Adrian Smith, dan Janick Gers (gitar). Iron Maiden yang dikenal sejak awal 1980-an disebut-sebut sebagai band heavy metal terbaik yang pernah ada. Selama 30 tahun, band tersebut berhasil menjual 80 juta album di seluruh dunia dan tampil di hampir 2.000 pertunjukan langsung.

Meski begitu, dengan nada merendah, Harris mengatakan, pencapaian terbesar Iron Maiden yang sebenarnya adalah memiliki banyak penggemar di seluruh dunia. ”Ini fantastis. Kami harus berterima kasih kepada mereka. Kami selalu ingin tampil di hadapan mereka,” katanya. (BSW)

Tuesday, February 15, 2011

Tak Lagi "Ngumpet", Cut Tari Siap Kembali

Di sebuah tempat beristirahat di pinggir jalan tol di wilayah Bekasi, Jawa Barat, sebelum menuju ke Pengadilan Negeri Bandung, Senin (13/12/2010), Cut Tari menegaskan bahwa ia siap menjadi saksi kasus penyebaran video-video seks yang salah satunya diakuinya dimainkannya berdua dengan terdakwa Nazriel Irham atau Ariel.

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan presenter infotainmet, Cut Tari, menyatakan siap kembali ke dunia entertainment yang membesarkan namanya.

Menurut Tari, saat ini sudah bukan saatnya lagi bersembunyi dari kasus video porno yang telah menyeretnya berurusan dengan hukum. "Ya, lagi disiapin semuanya buat ke depan, tetapi maunya tunggu beres dulu semuanya-lah," tutur Tari dalam wawancara di JCC, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (15/2/2011).

Untuk kembali bekerja di dunia entertainment, Tari mengaku sedang melakukan banyak penyesuaian diri. Istri Muhammad Joesoef Subrata itu pun mengaku perlu beradaptasi kembali dengan publik.

"Saya lagi belajar buat menghadapi orang banyak dan alhamdulillah banyak support dari orang-orang entertainment buat saya menghadapi semua orang, ya saya bersyukur," ujarnya.

Hal tersebut dilakukan Tari karena tak dapat lagi membendung kerinduannya untuk kembali bekerja. "Ya, masalah rindu karena ini hampir dua puluh tahun, ya, saya bekerja di entertainment. Jadi, ini bukan masalah rindu lagi, tetapi mendarah daging dari kecil. Semakin saya recovery, semakin saya rindu," ujar Tari.

Karena itu, bersembunyi dari masalah bukanlah alasan yang tepat bagi Tari. "Ya, karena semua dukungan dari keluarga dan lain-lain, dari teman semua, kenapa enggak, kenapa harus ngumpet, kenapa harus menepi, kenapa enggak kembali lagi, tetapi tentunya harus lebih baik lagi."

"Pertama, saya harus bisa menerima kalau ini semua sudah terjadi, semua sudah saya lalui, saya hanya butuh kekuatan dari doa," ujarnya menutup pembicaraan.

Lea Simanjuntak Bersiap Klasik

JAKARTA, KOMPAS.com -- Lea Simanjuntak (30) akan tampil di konser A Masterpiece of Erwin Gutawa. Lea akan membawakan empat lagu, satu lagu dinyanyikan bersama Dira J Sugandi dan Eka Deli serta tiga lagu lainnya dinyanyikan secara medley.

”Sekarang sudah mulai persiapan fisik dan latihan nyanyi klasik lagi karena ada satu nomor yang akan saya nyanyikan dengan gaya klasik,” kata Lea.

Tampil di konser yang merefleksikan perjalanan karier Erwin Gutawa di dunia musik Tanah Air tak membuat Lea terbebani. ”Setiap penyanyi yang tampil dipilih karena ciri khas masing-masing. Saya yakin, saya juga punya ciri khas,” kata Lea.

Deretan penyanyi yang akan tampil di konser Erwin Gutawa produksi Kompas Gramedia Production dan Dyandra Production ini, antara lain, Iwan Fals, Rossa, Afgan, Once, Sandhy Sondoro, Kotak, dan Waldjinah. Konser digelar 26 Februari di Jakarta Convention Center.

Selain sibuk mempersiapkan penampilan di konser Erwin, Lea kini tengah mempersiapkan album solonya. Pengerjaan album Lea sempat tersendat empat bulan lantaran dia terlibat musikal Laskar Pelangi.

”Sekarang saya bertekad merampungkan album. Mudah-mudahan akhir tahun ini bisa rilis. Secara materi, album ini menunjukkan Lea sudah berubah, sudah lebih dewasa,” papar Lea. (DOE)

Cut Tari: Baru Bisa Keluar

JAKARTA, KOMPAS.com — Semenjak terlibat dalam kasus video porno, mantan presenter infotainment, Cut Tari, mengaku lebih banyak berdiam diri di rumah. Namun, saat vokalis asal Malaysia, Sheila Majid, menggelar konser tunggal 25 tahun berkarya, Cut Tari akhirnya memberanikan diri keluar rumah untuk sekadar menghibur diri.

"Ya, senanglah, apalagi saya jarang keluar. Saya sekarang baru bisa keluar, ya, menghibur dirilah," ungkap Tari seusai menyaksikan konser Sheila di JCC Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (15/2/2011) malam.

Keinginan Tari untuk bisa menyaksikan konser juga lantaran sosok pelantun lagu "Antara Anyer dan Jakarta" yang menjadi idolanya. "Aku itu suka Sheila Majid dari aku umur 16 tahun, jadi aku bela-belain banget, padahal tadi aku lagi ada kerjaan. Aku bela-belain buat ke sini. Dan, aku tadi dapat foto bareng sama Sheila Majid," imbuh Tari.

Lagu apa yang paling disuka darinya? "'Hadirmu'," jawab ibu satu anak itu.

"Arwah Goyang Karawang": Asal Jadi, Cuma Jual Sensasi

ARWAH Goyang Karawang (AGK), menjadi sensasi pascaperseteruan Julia Perez  (Jupe) dan Dewi Perssik (DP). Tidak hanya itu, nyaris seperti Ketika Cinta Bertasbih 1 yang menempelkan label ‘Mesir Asli’, AGK pun melabeli posternya dengan tulisan ‘Termasuk Adegan Asli’.

Shanker, sang produser, sadar betul bahwa perseteruan Jupe-DP yang sudah menyeret hukum itu sudah menjadi komoditas. Kesengajaan menjadikan perseteruan itu menjadi komoditas pun tercermin dari adegan pertengkaran selama lima menit yang diunduh di YouTube. Lengkap dengan teks ajakan menonton AGK di akhir klip.

Murahan? Mungkin. Namun orang-orang yang sudah bikin film dengan jerih payah itu pasti akan mengatakan kalau inilah keinginan masyarakat. Yah, kasihan sekali rakyat-rakyat kita: menonton sampah yang tersedia, dibiarkan menikmati suntikan sensasi dua pemainnya yang sedang berseteru. Sampai akhirnya ABG dan dewasa yang penasaran membanjiri gedung bioskop di akhir pekan, di hari Valentine, dan di  Maulid Nabi SAW. Sungguh satir.

Kisah film Arwah Goyang Karawang berawal ketika Lilis (Julia Perez) terpaksa kembali menjadi penari di sebuah grup tari jaipong Goyang Karawang karena keadaan ekonomi. Suaminya, Aji (Erlando) di-PHK dan sudah lama menganggur. Aji juga digambarkan pelaku KDRT. Lilis pun kembali mengulang kejayaannya dengan kembali bergabung di pub Bintang Kejora.

Sayang, dia harus mengulanginya dari awal karena pub itu sudah memiliki primadona sendiri. Adalah Neneng (Dewi Perssik) yang sudah mendapat banyak perhatian karena tariannya. Pada suatu malam Lilis pun memancing perhatian. Ia mencampurkan tarian jaipong dengan erotisme. Para penonton yang didominasi laki-laki pun pada keblinger. Lilis pun menjadi primadona dalam sekejap, dan dengan mudah diangkat untuk mengisi acara utama dengan bayaran wah oleh si bos. Neneng pun iri karena posisinya telah digantikan.

Kemudian dengan tiba-tiba dan nganeh-nganehi beberapa pengunjung, si bos, dan perempuan yang berselingkuh dengan suami Lilis pun mati dengan mengenaskan. Aji kemudian mencari tahu hingga ia mendapatkan kejelasan kalau Lilis ternyata memiliki saudara kembar bernama Lela.

Ketika masih remaja Lilis dan Lela adalah saudara kembar yang bisa menari jaipong. Sayang, Lilis yang lebih kalem dan pendiam lebih banyak mencuri perhatian. Termasuk perhatian dari Aji. Lilis juga sempat diajak syuting ke luar negeri oleh seorang bule yang akan memfilm dokumenterkan kesenian Karawang. Namun Lela yang iri akhirnya melakukan tindakan fatal. Karena emosi, ia membuat saudara kembarannya koit. Meski tidak sengaja, namun bagaimanapun kecemburuan dan amarahnya tetap menguasai. Lilis  pun dikesankan gantung diri. Intinya, Lela pun menyamar jadi Lilis, menikahi Aji, dan orang-orang pun menyangka kalau yang bunuh diri itu Lela, bukan Lilis.

Nah, bagian ending ini memberikan kebingungan yang mungkin luar biasa pada penonton awam. Bahkan teman saya yang ‘telat’ itu ngaku bingung. Saya juga agak bingung juga karena scene sebelumnya adalah potongan-potongan gambar yang diedit kacau, tidak rapi, dan campur aduk musik score.

Arwah Goyang Karawang. Dari judul saja sudah cukup mengganggu. Arwah identik dengan sesuatu yang punya ruh. Dan goyang Karawang jelas tidak memiliki ruh, kecuali dalam ari konotatif/kiasan/simbolisme. Kalau judulnya memang berkesan simbol, mungkin saya maafkan. Namun film ini telah identik dengan arwah si penari goyang karawang. Nah, kalau maksudnya begini, alangkah baik kalau judulnya Arwah Penari Goyang Karawang.

Di awal scene, saya mendapati Jupe dan Erlando yang sedang bertengkar. Jupe memakai pakaian ala Si Manis Jembatan Ancol, gaun putih sampai selutut lengkap dengan belahan dada yang mencolok. Dan keaduhaian itu belum seberapa ternyata. Manakala banyak sekali eksplorasi sensualitas yang berlebih.

Jupe-DP selalu memperlihatkan belahan dada, ada pula adegan seorang perempuan yang menyentuh selangkangan lelaki dengan ujung jari kakinya, belum lagi terlihat (maaf) putingnya dalam sebuah scene. Ini memang hal yang tidak perlu dipermasalahkan dalam film semacam ini. Sebab dari kacamata realitas, banyak pula perempuan yang berpakaian seksi terutama yang bekerja di sektor marjinal (baca: dunia malam).

Realitas film ini juga ditunjukkan dengan fasih lewat dialog super gamblang dengan diksi sarkastik yang memang lumrah dimoncongkan sebuah komunitas. Sebutlah lonte, anjing, bangsat, burik, bintil, bencong, atau kata-kata lainnya. Dan karena film ini tidak dijelaskan untuk penonton umur sekian dan untuk kalangan mana. Jadi jelas, tontonan ini untuk kalangan urban metropolis dan modern yang (baca: bukan penonton KCB).

Bagaimana dari segi teknis, Kakang Saman? Karena saya menonton AGK tanpa ekspektasi, jadi saya sudah bersiap-siap. Teknis sangat terlihat ala kadarnya. Setting panggung yang harusnya wah, setting di private room, ruangan pub, bahkan ruangan rumah, begitu miskin akan tata pencahayaan.  Gelap dan remang memang hal yang patut ditanamkan dalam film horor, namun inilah tipikal film horor nasional: dibuat simpel dengan bujet yang minim.

Editing pun terlihat sangat bergaya Nayato. Bikin sakit mata, ala-ala video musik tahun 90-an yang sengaja dikacaukan untuk nilai seni.Teknis ini aman dipakai satu dua kali. Namun teknis macam begini selalu dipakai sineas kita untuk menutupi efek visual yang kurang. Adegan tarian Jupe yang seharusnya tegang dan erotis tiba-tiba menjadi semacam scene seorang perempuan rocker. Adegan pembunuhan pun sangat Indonesia sekali alias ngasal. Tahu-tahu itu orang sudah tepar, mati, dengan berdarah-darah.

Mau tahu apa yang paling menggelikan? Entah kurang bujet atau karena dikejar deadline, gambar montage dicomot begitu saja dari kamera handphone. Ini terlihat sekali dari blur-nya scene montage (pemandangan) yang berupa: pemukiman penduduk yang terlihat dari atas. Terlihat seperti gambar yang diambil lewat HP dari atas apartemen. Dan ini dimasukkan sebelum adegan Lilis dan Aji di rumah. Ada pula montage malam dan bulan (nuansa angker seperti Twilight). Terlihat seperti mengambil gambar dari film lain. Yah, ini hanya perkiraan saya. Saya bisa saja keliru, kan?

Lalu apa yang paling mengganggu lainnya? Ya, adanya scene perkelahian beneran yang tiba-tiba dimasukkan begitu saja di film. Lengkap dengan tulisan (kira-kira): scene perkelahian asli saat shooting. Wah, saya mau maki-maki pas ada ‘acara’ kayak beginian.

Seumur-umur nonton film, baru ada yang kayak beginian. Bahkan satu-satunya film di dunia ini yang ada aksi menempel sisa scene ‘tidak layak pakai’ itu ke dalam film utuh. Lain halnya jika dokumenter, ini kan, film fiksi. Alangkah bagus kalau scene itu dihilangkan (dan teks itu juga dihilangkan). Alangkah lebih bijak memasang scene itu di akhir film saja seperti film-film pada umumnya yang beberapa memasang adegan gagal.

Dari fakta ini tergambar jelas betapa si produser ini berhasil memuaskan dahaga para penonton yang kepingin tahu ‘adegan fighting’ itu. Meski adegan itu berhasil hingga membuat penonton awam ribut dan cengo, namun bagi orang kayak saya pasti mikir: apa-apaan?

Helfi Kardit selaku sutradara AGK memang familiar di telinga saya. Filmnya yang pernah saya tonton di bioskop adalah Lantai 13 (2007). Dan itu adalah horor yang menurut saya bagus. Apa mungkin Helfi ‘takluk’ atas permintaan Shankar karena alasan asal laku? Saya juga mengacungi Helfi dua jempol untuk filmnya Mengaku Rasul (2008) yang dibintangi Ray Sahetapy. Meski terkesan gambar sinetron, namun penyutradaraannya terbilang cukup bagus dan nuansa thriller-nya terasa.

Namun film AGK ini tidak melulu cacat. Mengangkat kebudayaan nasional memang bagus. Jupe-DP pun bermain lumayan bagus. Terutama Jupe, karena ia adalah pemeran utama (karakter Lilis mendapat porsi lebih banyak daripada Neneng). Beberapa dialog dan scene pun mengundang empati. Bagaimana saya bisa merasakan kecemburuan Lela pada saudara kembarnya, bagaimana kekesalan Neneng ketika posisi primadonanya digantikan Lilis  ’palsu’. Dan satu dialog yang menurut saya bagus “tarian karawang telah disalahgunakan,” ucap Lilis palsu’. Sisi manusiawi pun digambarkan cukup baik yakni Lela yang psikopat, Aji yang depresi, atau Neneng yang haus kuasa.

Sayangnya film ini memang film horor yang  tentu saja tidak masuk akal. Saya sempat membayangkan kalau film berlatar goyang Karawang ini dibuat drama oleh Nia Dinata atau Nan Achnas dengan bintang Jupe-DP, pastilah akan bagus. Dan keseksian keduanya tidak akan ‘sia-sia’, melainkan bernilai. Yaitu pemaparan realitas dengan tujuan mulia: mengritik keadaan sosial kalangan minoritas. Tidak semata menjual ragawi, kata-kata sompral atau perkelahian gak jelas, yang nggak bisa dinilai asli nggaknya hanya untuk sebuah KEUNTUNGAN.

Semoga produser film tanah air kita bisa lebih waras ke depannya. Dengan membikin tayangan film berkelas, dan memiliki esensi, bukan sensasi-murahan.

(Kompasiana/Samandayu)

Sheila Majid Bawa Pesan Persahabatan Malaysia-Indonesia

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOPenyanyi kawakan Malaysia, Sheila Majid, tampil dalam konser tunggal Sheila Majid 25 Years Radiance Celebration, di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, Selasa (15/2/2011) malam. Sheila diiringi bandnya dari Malaysia dan menampilkan bintang tamu gitaris asal Bali I Wayan Balawan. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOSheila Majid di tengah para penontonnya dalam konser tunggal Sheila Majid 25 Years Radiance Celebration di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, Selasa (15/2/2011) malam. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOSheila Majid membawa pesan persahabatan Malaysia-Indonesia dalam konser tunggal Sheila Majid 25 Years Radiance Celebration di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, Selasa (15/2/2011) malam. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOPenyanyi asal Malaysia, Sheila Majid, tampil dalam konser tunggal Sheila Majid 25 Years Radiance Celebration di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, Selasa (15/2/2011) malam. Sheila Majid yang diiringi bandnya dari Malaysia juga menampilkan bintang tamu gitaris asal Bali, I Wayan Balawan.

JAKARTA, KOMPAS.com -- Dari panggung Jakarta Convention Center, Selasa (15/2/2011) malam, diva pop asal Malaysia, Sheila Majid, yang menggelar konser Sheila Majid 25 Years Radiance Celebration Live in Jakarta, memberi pesan penting tentang persahabatan yang perlu dijaga antar dua negara serumpun--Indonesia dengan tanah kelahiran Sheila. Hal tersebut tentu mengingatkan kita akan hubungan diplomatik kedua negara yang sering memanas.

Pesan damai itu diucapkan dua kali oleh penyanyi kawakan tersebut, ketika ia menyuguhkan "Dengarkanlah" (lagu ke-10) dan "Bunyi Gitar" (ke-13). "Aku berkolaborasi dengan musisi Indonesia dan Malaysia, dan siapa bilang ini malah bikin berantem, hah? Berikutnya lagu ini terinspirasi oleh kalian, para penggemarku," tutur Sheila sebelum "Dengarkanlah" dinyanyikannya.

Usai membuai para penonton dengan lagu-lagu bertempo lambat, Sheila memanjakan para penyuka musiknya dengan lagu bertempo cepat yang diiringi musik dengan aransemen blues. "Sekarang waktunya berpesta. Ayo semuanya yang duduk berdiri, sebelum kalian keram," pinta Sheila sambil berseloroh sebelum intro "Bunyi Gitar" dimainkan.

Pada pertengahan lagu, Sheila memberi sebuah kejutan dengan mengundang gitaris I Wayan Balawan dari Bali untuk naik ke pentas. Balawan, yang berjalan dari tribun penonton di barisan paling atas, langsung menyuguhkan permainan gitar elektriknya  dengan distorsinya. Sheila mengulang kembali pesan persahabatannya ketika Balawan saling mengisi permainan gitarnya bersama gitaris asal Malaysia Adjee. "OMG (oh my God)... OMG... ada Balawan, saya harus kabur," canda Sheila. "Kita beri mereka tepuk tangan. Saya bilang kan, mereka tidak akan berkelahi," lanjutnya.

Tak hanya itu, Sheila juga menebar aroma nostalgia dalam konser yang dibukanya pada pukul 20.15 WIB itu dengan permainan video mapping sebelum lagu-lagu "Ada-ada Saja", "Memori", "Kasih", "Hasrat Cinta", dan "Tua Sebelum Waktu" disajikan secara medley. Sheila pun tidak luput mengungkapkan perasaan bahagianya begitu mendapat sambutan hangat dari para penonton yang berjumlah kira-kira 2.500 pada malam itu.

"Selamat malam Jakarta, apa kabar semuanya," seru Sheila. "I love you," sambut para penggemarnya. "Ya, I love love you too, saya senang ada di sini bersama kalian, untuk menikmati pertunjukan 25 tahun berkarier saya, dan saya belum pernah tampil seperti ini," sambung Sheila sebelum "Hadirmu", "Kerinduan", "Emosi", "Inikah Cinta", "Embun", dan "Engkau Laksana Bulan" digulirkannya.

Sheila, yang terlihat sempat kurang lepas bernyanyi pada awal pertunjukan tersebut, mencoba mencairkan suasana dengan menyeberang ke barisan tribun VIP melalui anak-anak tangga yang disediakan. "Saya pengin kenalkan komposer lagu saya. Dia teman baik saya, tapi dia orangnya sudah tua. Dia sudah menemani perjalanan karier saya selama ini. Dia adalah Oddie Agam, tapi saya panggil dia Agam," terang Sheila sambil melantunkan "Aku Cinta Padamu", yang dicipta oleh Oddie, sebelum bergeser ke lagu-lagu "Ku Mohon" dan "Cinta Jangan Kau Pergi".

Sheila juga menyapa vokalis kawakan Tanah Air Vina Panduwinata. Bahkan, Sheila meminta Vina untuk naik ke panggung dan bernyanyi sepenggal lirik lagu "Dia". "Sebelum saya menjadi penyanyi, saya suka menyanyikan lagu berikut ini, karena saya begitu terinspirasi olehnya. Tapi, sampai akhirnya saya dewasa, dia malah menjadi sahabat saya. Dia lah Vina Panduwinata," kenang Sheila. "Mana Vina, mana suaranya? Oh ya, terlalu mahal mendengar suara Vina. Ini 'Dia' untuk kamu," sambungnya.

Tak berhenti di situ, konser tersebut tentu tidak lengkap jika tidak ada lagu "Antara Anyer dan Jakarta", ciptaan Oddie Agam. Karena itu di urutan ke-15 pada repertoarnya malam itu, Sheila menggelindingkan lagu tersebut. Pertunjukan lalu ditutup dengan "Warna", "Manusia", "Legenda", dan "Sinaran".