Monday, October 24, 2011

Anwar Fuady: Kehilangan Sosok Perempuan Cerdas

JAKARTA, KOMPAS.com Dunia perfilman Tanah Air kembali berduka karena kehilangan Titie Said, penulis yang juga mantan Ketua Lembaga Sensor Film (LSF). Titie Said mengembuskan napas terakhirnya pada Senin (24/10/2011) sekitar pukul 18.45 dalam perawatan di Rumah Sakit Medistra, Jakarta.

Anwar Fuady, aktor yang juga anggota LSF sekaligus sahabat beliau, mengaku kaget saat mendengar kabar tersebut. Anwar memang telah mendengar sejak seminggu lalu bahwa penulis novel Perjuangan dan Hati Perempuan ini sudah dirawat akibat penyakit strokenya.

"Kaget, sangat kaget. Saya dengar sejak seminggu lalu masuk rumah sakit, dan tiga hari sebelumnya masih bercanda sama saya," tutur Anwar Fuady kepada Kompas.com saat dihubungi via ponselnya, Senin (23/10/2011) malam.

Pria 64 tahun itu memandang sosok beliau adalah perempuan yang cerdas. Titie Said juga seorang yang humoris. "Seorang tokoh yang baik, polos, cerdas, dan ramah pada semua orang," ujarnya lagi.

Kini Anwar dan segenap masyarakat film mengaku amat kehilangan beliau. Sosok Titie tak akan bisa tergantikan. Anwar sendiri mengaku punya kenangan yang tak akan terlupakan. "Beliau orang yang pertama memanggil saya dengan nama panggilan Anfu, yang sampai saat ini melekat pada saya," katanya. 

Titie Said lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 11 Juli 1935. Pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Sensor Film dua periode (2003-2006, 2006-2009). Tahun 2009 hingga sekarang, Titie tercatat sebagai anggota Lembaga Sensor Film. 

Sebagai novelis, Titie telah menulis 25 novel hingga tahun 2008. Beberapa novel karya Titie, antara lain, Jangan Ambil Nyawaku (1977), Reinkarnasi, Fatima, Ke Ujung Dunia, dan Prahara Cinta (2008). Sedangkan kumpulan cerita pendeknya adalah Perjuangan dan Hati Perempuan (1962).

No comments:

Post a Comment