JAKARTA, KOMPAS.com — Apa jadinya bila film tentang budaya, politik, cinta terdapat dalam satu judul film? Ya, hal itulah yang akan ditemukan dalam Sang Penari. Film yang berlatar belakang di tahun 1950-1970 ini bercerita tentang perjuangan dan dilema Srintil (Prisia Nasution) juga Rasus (Oka Antara).
Pembaca Media Perempuan Kompas Gramedia pun mendapat kesempatan sebagai orang pertama yang menyaksikan film ini. Alhasil setelah menyaksikan film yang berdurasi lebih dari 90 menit ini mengaku takjub dengan Sang Penari.
"Filmnya keren banget, nggak nyangka aja. Dari segi musik, latar belakang, sampai akting tiap pemainnya dapat banget," ujar Eva Natali, salah satu penonton saat diwawancarai di Pondok Indah Mall, Jakarta, Minggu (23/10/2011).
Sang Penari sendiri merupakan adaptasi dari novel triologi berjudul Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Novelnya sudah memiliki cerita yang kuat dan penuh kritik sosial di era 1965.
Cerita itulah yang kemudian diadaptasi oleh Salman Aristo, penulis skenario yang juga mengerjakan Garuda di Dadaku dan Laskar Pelangi. Ia juga dibantu oleh Shanty Harmayn dan sang sutradara, Ifa Ifansyah.
Selain Oka Antara dan Prisa Nasution, masih ada sederet bintang ternama seperti Slamet Rahardjo Djarot, Tio Pakusadewo, Happy Salma, dan Zaenal Abidin Domba.
"Akhir filmnya juga enggak nyangka. Keren, sumpah, jadi pengen nonton lagi," ujar penonton yang lain.
Film yang diproduksi oleh KG Production, bekerja sama dengan Salto Production, Indika, dan beberapa pihak lainnya direncanakan akan tayang pada 10 November mendatang. Jadi, bagi penikmat film sejati, tampaknya merugi apabila tak menyaksikan Sang Penari.
No comments:
Post a Comment