Monday, February 7, 2011

Berkat Ibu, Nini Carlina Menyanyi untuk Imlek

Artis peran dan penyanyi dangdut Julia Perez, presenter Anya Dwinov, perancang busana Defrico Audy, artis komedi Ryzna Nyctagina atau Jeng Kelin, presenter Terri Puteri, dan vokalis Nini Karlina (dari kiri ke kanan) dalam ajang Jakarta Fashion and Food Festival 2010, di Grand Ballroom Harris Hotel Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (19/5/2010) malam. Para figur publik itu tampil di catwalk memeragakan busana rancangan Defrico.

JAKARTA, KOMPAS.com — Sejak kecil, Nini Carlina (34) dibentuk oleh sang ibu untuk menjadi penyanyi yang bisa membawakan beraneka lagu. Salah satu hasilnya dirasakan Nini dalam perayaan Tahun Baru Imlek, Kamis (3/2/2011).

Dalam rangka perayaan tersebut, sebuah hotel berbintang lima di Surabaya, Jawa Timur, mengundang Nini untuk menghibur para tamu hotel. Dalam kesempatan itu, pedangdut yang terkenal dengan nyanyian pertamanya, "Gantengnya Pacarku" (1992), ini harus menyajikan lagu-lagu pop Mandarin dan, berkat jasa ibunya pada masa lalu, ia mampu memenuhi permintaan tersebut.

Nini bangga akan pencapaiannya itu. "Yang membuat suatu kebanggaan dalam karier saya, tidak semua penyanyi punya kesempatan menyanyi untuk perayaan Imlek karena, kan, komunitasnya beda," tutur pemilik nama asli Nini Herlina ini dalam perbincangan dengan Kompas.com di Jakarta, Sabtu (5/2/2011).

Nini merasa didikan ibunya tidak sia-sia. "Kemarin itu bisa dibilang pencapaian yang signifikan sekali untuk karier saya, dan itu juga adalah buah dari saya pas SMP belajar menyanyikan lagu-lagu Mandarin," katanya. "Dahulu saya dibentuk bukan sebagai penyanyi saja, tapi sebagai entertainer yang bisa menyanyikan segala jenis lagu, mulai pop, dangdut, campursari, sampai Mandarin. Dahulu ibu saya bilang, 'Kamu jangan cuma bisa menyanyi satu jenis aja, tetapi harus bisa juga keroncong, pop, dan lain sebagainya.' Jadi, ini yang membentuk, ya, mbokku (ibuku)," tuturnya lagi.

Selain itu, menurut Nini, musik Banyuwangi memiliki kemiripan dengan musik Mandarin."Saya suka musik Mandarin  karena punya kedekatan dengan musik di daerah saya di Banyuwangi. Lagu daerah Banyuwangi itu ada unsur-unsur Mandarin masuk ke situ. Kemudian saya merasa tertantang karena tidak semua orang bisa menyanyikannya karena menghafal artikulasi per suku katanya kecil-kecil dan belibet dengan spelling yang harus pas," ujar Nini.

Walaupun mampu menyuguhkan berbagai macam jenis lagu, Nini tak bisa memungkiri bahwa ia terkenal sebagai pedangdut. "Saya terlahir bukan sebagai penyanyi dangdut sebetulnya. Saya sebenarnya berkecimpung di dunia pop. Namun, perjalanan karier dan industrilah yang mencetak saya secara tidak sengaja dan akhirnya saya ditaruh di dangdut," ujarnya.

Karena menikmati pop Mandarin itu, Nini juga ingin kelak bisa menelurkan album pop Mandarin. "Untuk membuat album, mungkin ada. Namun, itu enggak menjadi suatu obsesi buat saya. Kalau saya punya keinginan, sih, biasanya terwujud. Kalau saya punya obsesi, malah langka terwujudnya," ujarnya lagi. "Malah, yang tadinya hanya iseng, terwujud," tutur perempuan yang sudah menjanda lima tahun dan punya satu putra ini.

No comments:

Post a Comment