JAKARTA, KOMPAS.com -- Sukses ketika pertama kali dipanggungkan, pada 2010, dan banyak orang yang belum mendapat kesempatan menonton ketika itu, pertunjukan musikal Jakarta Love Riot akan kembali dipentaskan oleh EKI Dance Company dan Kompas Gramedia Life Style Division, di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), 23-27 Februari 2011.
"Pertunjukan ini dibuat berdasarkan permintaan khalayak yang tidak mendapatkan tiket pada pergelaran tahun lalu," kata Produser Eksekutif Jakarta Love Riot, Aiko Senosoenoto, dalam jumpa pers di East Mall, Grand Indonesia, Kamis (17/2/2011).
Meski dihadirkan kembali, pertunjukan yang mengisahkan kehidupan sepasang remaja yang berbeda status, saling jatuh cinta, tapi menyulut kerusuhan di dua lingkungan itu dijamin telah dikembangkan. "Walau pun ini pertunjukan ulang, pergelaran kali ini mengalami banyak pengembangan. Mulai dari jalan cerita, lagu, tata panggung, hingga tarian," janji Aiko.
Selain itu, melalui visi yang baru, Rusdy Rukmarata, yang kembali didapuk menjadi sutradara, mengaku banyak memberi sentuhan baru pada Jakarta Love Riot kali ini. "Perbedaannya banyak sekali. Tadinya, tadinya mau ngasih sedikit-sedikit, tapi jadinya ternyata banyak. Dari sudut cerita, konfliknya bertambah. Waktu itu kurang 'ajaib', seperti Toto anak tunggal dan Nala anak tunggal, sekarang Nala jadi ada adiknya," tutur Rusdy menyebut contoh. "Tokoh Jos akan kami eksploitasi lagi. Bahkan, ada latihan khusus, itu perlu dilihat," lanjutnya.
Penekanan alur cerita pun kini ditempatkan oleh Rusdy pada bagian akhir pementasan. "Dari segi cerita, ending berubah agak besar, karena yang dulu ending-nya dadakan," ucapnya. "Kalau dulu konflik biasa saja, kali ini ada korban, sedangkan konflik yang utama terjadi antara adik dengan kakak. Jadi, adik Nala punya peran signifikan di sini," sambungnya. "Kalau dari adegannya, ada 60 persen yang baru, yang tetap hanya 40 persen," ucapnya lagi.
Jenis tari yang mengisi pementasan Jakarta Love Riot pun diubah. "Segi tarian kami lebih entertain, variasi ditambah, ada tap dance dan tari mangkok pakai musik hip-hop. Dan, ada satu tarian lagi yang agak teknis, tapi nanti kita bisa lihat lagi," sebutnya lagi. "Sebenarnya tap dance salah satu favorit saya, cuma tidak bisa dipaksain. Tapi, kebetulan di script yang sekarang ada peluang buat memasukkan tap dance dan orang juga sudah banyak tahu itu," imbuhnya.
Karena itu, agar melebihi pencapaian Jakarta Love Riot tahun lalu, Rusdy kembali memertahankan tim artistik yang lama. "Kami memertahankan tim artistik yang lama, karena makin lama makin solid. Kami ada the winning team, jadi never change the winning team," ungkapnya. "Kami bertahan pada artistik yang lama, karena itu yang paling sulit. Ini supaya nyawa musikal tetap satu," timpal Aiko.
Dengan sejumlah visi tersebut, tak ada alasan lain bagi Kompas Gramedia untuk menolak memproduseri pementasan ulang Jakarta Love Riot. "Pertama memang kualitas. Dari pertunjukan musikal yang terakhir ini, kami melihat EKI sudah siap, sudah khatam, jadi kenapa enggak kami coba yang terbaik. Kami merasa punya visi yang sama dengan EKI, saya sudah mengenal EKI dari 1997. Dari pertama kali kenal, rasanya grup ini beda dengan semangat menggerakkan orang muda. Itulah yang harus didukung, karena seni itu bukan instan, tapi harus didukung dengan hal lain dan EKI punya itu semua," tutur Publisher Woman Lifestyle Magazine Kompas Gramedia, Reda Gaudiamo.
No comments:
Post a Comment